Minggu, 31 Juli 2016

INTERMEZZO

Dalam kehidupan rumah tangga, sang suami tidak hanya dituntut utk memenuhi kebutuhan lahir dan batin si istri yang mana satu dari dua hal itu hilang, maka si istri berhak menuntut cerai. Sekali lagi, tidak hanya dua itu, akan tetapi lebih dari itu, si suami juga diharapkan mampu ‘ngegombal’, atau merayu dan meyanjung si istri walau terkadang sedikit berlebihan. Karena lazimnya perempuan suka digombalin, walaupun dia sosok yang terpelajar dan super jenius, yang paham bahwa suaminya hanya menggombal, akan tetapi entah kemana akalnya saat itu, walau dia tahu dia sedang digombalin, tetap saja dia sangat bahagia akan hal itu.
Berbicara perihal, gombal-menggombal, jadi teringat kisah nyata yang terjadi di sebuah komunitas dakwah di salah satu kota di Jawa. Suatu ketika ada salah seorang teman, sebut saja Budi, dia sedang mendengarkan semacam nasyid berbahasa Arab yg tidak ada musiknya. Walhasil, ada teman Budi yg tertarik akan nasyid yang sedang didengarkan Budi, karena mereka memang orang-orang yang bergelut di komunitas dakwah, sehingga hanya nasyid Arab apa lagi yang bahasanya sederhana, merekapu  langsung mengerti.
ISI NASYID
            Tak dinyana, nasyid Arab yang mendayu-dayu itu ternyata nasyid pujian seorang suami kepada istrinya, syairnya begitu indah, yang akhirnya teman Budi ini pun mengkopi nasyid tersebut dan mendendangkannya di depan istrinya, sang istri pun bertanya,”nasyid apakah itu, nadanya begitu menyentuh?” Si istri terbawa oleh lantunannya tanpa paham isi liriknya, karena memang dia tidak memiliki back ground pesantren atau mereka yang menggeluti ilmu bahsa Arab. Sang suamipun menjawab ,” Ini nasyid, ku persembahkan padamu ?” Maka wajah si istri pun mulai sumringah, dia pun bertanya, “ memang maknanya apa ?” Maka sang suami punmulai membacakan bait-bait syair tersebut, lalu menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. “zaujatii anti habiibatii anti,” yang maknanya”wahai istriku sungguh kamu adalah kekasihku,” wajah si istri pun mulai memerah, sang suami pun melanjutkan “wa mahmaa kaana mahmaa anti habiibati anti,” yang artinya “walau bagaimanapun kata orang tentang dirimu, kamu adalah kekasihku yang selalu aku sayangi,” wajah istripun makin nmemerah dan seolah beban berat yang ada di pundaknya dari omongan orang terhadap dirinya, atau pekerjaan rumah-tangga yg tidak pernah henti seolah lenyap bersama angin, melihat hal itu, sang suami pun makin semangat, ia pun melanjutkan”zaujatii uhibbukii kaifamaa anti,” yang artinya “wahai istriku, aku mencintaimu sebagaimana kamu adanya” (aku tidak mau seseorang yang lebih dari kamu, yang ku mau ya kamu).
APA YANG TERJADI ?

            Bait syair pamungkas ini dirasa oleh sang suami akan membuat istri mengalami puncak ‘klepek-klepek’, akan tetapi justru kebalikannya, sang istri merasa direndahkan, lho kenapa ? Dia merasa bahwa ia masih memiliki kekurangan berdasarkan ucapan si suami ini, maka dia pun berteriak sambil marah dan berkata : “ Aku ini kurang apa ha ? kurang cantik, atau kurang apa ? Ngomong yang jelas !!! Mendapat tanggapan itu, si suami pun lemes tanpa ada kata-kata yang mampu dia ucapkan, harapan yang semula ingin melihat si istri makin klepek-klepek dengan syair pamungkasnya pupus sudah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar