Nikah
al-Istibda’ , artinya , seseorang membawa istrinya kepada orang yang
diinginkannya. Yaitu, orang tertentu dari kalangan pemimpin atau pembesar yang
dikenal dengan keberanian dan kedermawanannya agar sang isteri melahirkan anak sepertinya.
Al-Bukhari meriwayatkan juga dari ‘Aisyah RA, bahwa dia mengatakan : “Seorang
pria berkata kepada isterinya ketika telah bersih dari haidhnya : “Pergilah
kepada si fulan lalu mintalah tidur dengannya,” Kemudian suaminya
menyingkirinya dan tidak menyentuhnya selamanya hingga Nampak kehamilannya dari
pria yang diminta menidurinya. JIka kehamilannya dari pria telah Nampak, maka
suaminya menyetubuhinya jika suka. Ia melakukan demikian hanyalah karena
menginginkan kelahiran anak. Oleh karenanya, nikah ini disebut nikah
al-Istibdha’.
Sedikit
kronologi pada masa itu, bahwa banyak orang biasa yang sangat ingin memiliki
keturunan dari pembesar kaumnya, dan ia berbangga diri jika memiliki keturunan
darinya. Dengan alasan itu banyak suami yang rela meyerahkan istrinya dan
bahkan dengan senang hati kepada pembesar yang dia kagumi utk digauli sampai
hamil.
Terkadang
begitulah setan, seorang suami sampai-sampai hilang rasa cemburunya dan bahkan
meminta istrinya utk berzina kepada orang lain, dan ketika Islam dating, Islam
merubah itu semua dan bahkan dalam sebuah hadits disebutkan, seorang suami
tidak akan mendapatkan baunya surge jika tidak memiliki rasa cemburu kepada
istrinya. Jika baunya saja tidak ia peroleh, lalu bagaimana dengan surganya ?
Tentu lebih mustahil lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar