Dalam kehidupan
rumah tangga, sang suami tidak hanya dituntut utk memenuhi kebutuhan lahir dan
batin si istri yang mana satu dari dua hal itu hilang, maka si istri berhak
menuntut cerai. Sekali lagi, tidak hanya dua itu, akan tetapi lebih dari itu,
si suami juga diharapkan mampu ‘ngegombal’, atau merayu dan meyanjung si istri
walau terkadang sedikit berlebihan. Karena lazimnya perempuan suka digombalin,
walaupun dia sosok yang terpelajar dan super jenius, yang paham bahwa suaminya
hanya menggombal, akan tetapi entah kemana akalnya saat itu, walau dia tahu dia
sedang digombalin, tetap saja dia sangat bahagia akan hal itu.
Berbicara
perihal, gombal-menggombal, jadi teringat kisah nyata yang terjadi di sebuah
komunitas dakwah di salah satu kota di Jawa. Suatu ketika ada salah seorang
teman, sebut saja Budi, dia sedang mendengarkan semacam nasyid berbahasa Arab
yg tidak ada musiknya. Walhasil, ada teman Budi yg tertarik akan nasyid yang
sedang didengarkan Budi, karena mereka memang orang-orang yang bergelut di
komunitas dakwah, sehingga hanya nasyid Arab apa lagi yang bahasanya sederhana,
merekapu langsung mengerti.
ISI NASYID
Tak dinyana,
nasyid Arab yang mendayu-dayu itu ternyata nasyid pujian seorang suami kepada
istrinya, syairnya begitu indah, yang akhirnya teman Budi ini pun mengkopi
nasyid tersebut dan mendendangkannya di depan istrinya, sang istri pun
bertanya,”nasyid apakah itu, nadanya begitu menyentuh?” Si istri terbawa oleh
lantunannya tanpa paham isi liriknya, karena memang dia tidak memiliki back
ground pesantren atau mereka yang menggeluti ilmu bahsa Arab. Sang suamipun
menjawab ,” Ini nasyid, ku persembahkan padamu ?” Maka wajah si istri pun mulai
sumringah, dia pun bertanya, “ memang maknanya apa ?” Maka sang suami punmulai
membacakan bait-bait syair tersebut, lalu menterjemahkannya ke dalam bahasa
Indonesia. “zaujatii anti habiibatii anti,” yang maknanya”wahai istriku sungguh
kamu adalah kekasihku,” wajah si istri pun mulai memerah, sang suami pun
melanjutkan “wa mahmaa kaana mahmaa anti habiibati anti,” yang artinya “walau
bagaimanapun kata orang tentang dirimu, kamu adalah kekasihku yang selalu aku
sayangi,” wajah istripun makin nmemerah dan seolah beban berat yang ada di
pundaknya dari omongan orang terhadap dirinya, atau pekerjaan rumah-tangga yg
tidak pernah henti seolah lenyap bersama angin, melihat hal itu, sang suami pun
makin semangat, ia pun melanjutkan”zaujatii uhibbukii kaifamaa anti,” yang
artinya “wahai istriku, aku mencintaimu sebagaimana kamu adanya” (aku tidak mau
seseorang yang lebih dari kamu, yang ku mau ya kamu).
APA YANG TERJADI ?
Bait syair
pamungkas ini dirasa oleh sang suami akan membuat istri mengalami puncak
‘klepek-klepek’, akan tetapi justru kebalikannya, sang istri merasa
direndahkan, lho kenapa ? Dia merasa bahwa ia masih memiliki kekurangan
berdasarkan ucapan si suami ini, maka dia pun berteriak sambil marah dan
berkata : “ Aku ini kurang apa ha ? kurang cantik, atau kurang apa ? Ngomong
yang jelas !!! Mendapat tanggapan itu, si suami pun lemes tanpa ada kata-kata yang mampu dia ucapkan, harapan yang
semula ingin melihat si istri makin klepek-klepek dengan syair pamungkasnya
pupus sudah.