Jumat, 28 Juli 2017

Menikahlah , InsyaAllah Akan Lebih Sehat

Menikah bukan hanya menyenangkan, tentu karena telah resmi bersanding dengan sang tambatan hati. Dan kebahagiaan tersebut ternyata juga ditambah dengan panjangnya umur karena menikah. ANggapan bahwa menikah bisa membuat orang hidup lebih sehat dan panjang umur, tampaknya terbukti benar. Ada alsan-alasan kesehatan tertentu yang memmbuat pernikahan menjadikan orang panjang umur.

Menikah adalah menyatukan 2 kepribadian orang yang berbeda-beda. Seperti dikutip dari AOLHealth , ada beberapa alasan kesehatan yang membuat seseorang harus menikah, yaitu :

1.    Menikah bisa mengurangi stres
Studi dari University of California menemukan bahwa orang yang menikah akan lebih bahagia dan mampu mengurangi kadar stresnya dibandingkan dengan orang yang tak menikah. Peneliti mengambil sampel air liur partisipan untuk menguji tingkat kortisol (hormone stress), diketahui orang yang menikah memiliki kadar kortisol yang lebih rendah sehingga tingkat stresnya lebih kurang.

2.    Menikah bisa mengurangi kemungkinan terkena stroke
Studi terbaru yang dilakukan oelh Tel Aviv University menunjukkan pernikahan bahagia bisa membantu mencegah stroke fatal pada laki-laki. Didapatkan laki-laki yang btidak menikah memiliki resiko 64% lebih tinggi terkena stroke fatal dibandingkan dengan laki-laki menikah.

3.    Menikah mengurangi resiko terkena demensia
Orang setengah baya yang hidup sendiri dua kali lebih mungkin mengalami demensia dan penyakit Alzheimer dibandingkan dengan orang yang menikah. Sedangkan orang yang bercerai pada usia setengah baya akan membuatnya memiliki resiko 3 kali lipat. Hasil ini berdasarkan penelitian yang dpimpin oleh Mila Kivipelto dari Swedish Medical University Karolinska Institute.

4.    Menikah dapat menurunkan tekanan darah
Berdasarkan penelitian dari Brigham Young University diketahui laki-laki dan perempuan yang menikah akan memiliki tekanan darah lebih rendah dibandingkan dengan yang lajang. Hal ini karena pada umumnya orang-orang tersebut memiliki system yang lebih teratur dan tidak terlalu cuek lagi dengan kesehatan dirinya.

5.    Menikah Menjauhkan seseorang dari depresi
Pernikahan umumnya memberikan dukungan social dan juga emosional sehingga dapat mengurangi depresi serta kecemasan seseorang. Bahkan sebuah studi menunjukkan orang yang sudah memiliki depresi akan mendapatkan dorongan psikologis dari pernikahannya. Hasil studi ini dilaporkaj dalam Journal of Health and Social Behavior.

6.    Menikah bisa menjauhkan seseorang dari tindakan beresiko

Sebelum menikah umumnya seseorang tidak terlalu memperhatikan kondisi tubuhnya dan bertindak sesuka hati. Tapi studi menunjukkan pernikahan bisa membuat seseorang lebih sedikit terlibat dalam perilaku beresiko seperti mengonsumsi alcohol, sering pulang malam dan juga tidak merawat diri. Hal ini karena ada orang-orang yang harus ia perhatikan selain dirinya sendiri. Selain itu jika ia sudah memiliki anak umumnya akan berperilaku jauh lebih sehat.

Sabtu, 01 April 2017

23 CARA ROMANTIS RASULULLAH SAW MEMBUAT RUMAH TANGGA HARMONIS





Membukakan pintu rumah dan juga kendaraan untuk istrinya
Rasulullah duduk di samping unta beliau. Beliau meletakkan lututnya, lalu Shafiyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau hingga ia bisa naik ke atas unta. Perlakuan itu diterima  oleh Shafiyah sejak awal perjumpaannya dengan beliau dalam perjalanan pulang dari Khaibar.
2.    Mencium istri sebelum pergi dan setelah pulang
Aisyah berkata, “Rasulullah mencium salah seorang istrinya, kemudian beliau pergi ke masjid untuk shalat, tanpa memperbarui wudhu.”
3.    Makan sepiring berdua
Aisyah berkata, “Suatu ketika aku sedang minum. Saat itu aku sedang dalam keadaan haid. Kemudian aku memberikan minuman itu kepada Rasulullah (dari gelas yang sama). Lalu beliau menempelkan mulutnya persis di tempat bekas aku minum. Pernah pula aku makan daging  yang menempel pada tulang dengan menggigitnya. Saat itu aku dalam keadaan haid. Kemudian aku memberikan daging itu kepada Rasulullah, lalu beliau meletakkan mulutnya pada daging bekas gigitanku.”
4.    Berlemah lembut dan menemani istri yang sakit
Rasulullah adalah orang yang sangat lembut. Beliau akan menjadi orang yang sangat lembut dan paling banyak menemani istrinya ketika sedang mengadu dan sakit.
5.    Bersenda gurau dan membangun keakraban
Ibnu Asakir meriwayatkan, “Rasulullah adalah orang yang paling banyak bergurau bersama istri-istrinya.” Syafii Antonio menjelaskan bahwa Rasulullah adalah orang yang tidak kaku, tidak kasar kepada istri dan keluarga. Beliau banyak bercanda, bergurau, dan bergembira. Bahkan ketika istri-istrinya sedang saling cemburu, seperti pada kisah ini.
Aisyah berkata, “Suatu hari, Saudah mengunjungi kami, sementara Rasulullah duduk di antara diriku dan kakinya. Sebelah kaki beliau berada di pangkuanku dan sebelahnya lagi berada di pangkuan Saudah. Lalu aku membawakan makanan yang terbuat dari tepung dan air susu untuk Saudah seraya berkata, ‘Makanlah.’ Saudah menolaknya sambil berkata, ‘Aku sedang tidak berselera makan.’ Lalu aku berkata, ‘Makanlah, atau aku akan melumuri wajahmu.’ Saudah tetap menolaknya sambil berkata, ‘Aku tidak akan mencicipinya.’ Lalu aku ambil makanan itu dari mangkuk yang besar dan aku lumurkan ke wajah Saudah. Nabi tertawa lalu mengangkat kaki beliau dari pangkuan Saudah agar bisa membalasku. Beliau berkata kepada Saudah, ‘Lumurilah muka Aisyah!’ Lalu Aisyah mengambil makanan dari mangkuk besar dan melumurkannya ke mukaku. Beliau pun tertawa lagi”
6.      Tetap akrab dan romantis dengan istri yang sedang haid
Aisyah berkata, “Ketika aku mendapat gilirang bersama Rasulullah, aku membuat roti dari bahan tepung. Kemudian beliau masuk dan menutup pintu. Beliau masuk ke dalam mushalla di rumahku. Ketika beliau hendak tidur, beliau menutup pintu, mengikat tali geriba (tempat air dari kulit), membalikkan mangkuk, dan mematikan lampu. Aku menunggu beliau keluar (dari mushalla) untuk memberi beliau roti, namun beliau belum keluar juga. Aku pun tertidur, sementara dinginmengusik Rasulullah. Lalu beliau mendatangiku seraya berkata, ‘Mendekatlah kepadaku, hangatkanlah diriku, hangatkanlah diriku!’ Lalu aku berkata kepada beliau, ‘Aku sedang haid.’ Beliau berkata, ‘Walaupun engkau sedang haid, singkapkanlah kedua pahamu.’ Aku membukakan kedua pahaku, (aku mendekap beliau) hingga beliau merasa hangat (dan tidur).’
Aisyah juga berkata, “Nabi membaca Al Quran (mengulangi hapalan), sementara kepala beliau berada di pangkuanku. Saat  itu aku sedang haid.”
7.    Mandi bersama
Aisyah berkata, “Aku pernah mandi bersama Rasulullah dalam satu bejana. Aku mendahului beliau mengambil gayung, lalu beliau mendahuluiku seraya berkata, ‘Tinggalkanlah (air) untukku!’ Aku pun berkata, ‘Tinggalkan (air) untukku!’”
Aisyah berkata, “Setiap kali Nabi mandi junub, beliau datang menghangatkan diri denganku dan memelukku, sedangkan aku belum mandi (junub).”
8.    Mengajak istri makan di luar
Anas bin Malik meriwayatkan, Rasulullah mempunyai tetangga orang Persia. Ia memasak kuah yang enak, lalu mengundang beliau untuk makan. Beliau lalu berkata, “Apakah bersama ia?” sambil menunjuk ke Aisyah. Ia menjawab, “Tidak.” Rasulullah berkata, “Kalau begitu, tidak.”
Beliau menolak pergi sendirian. Kemudian tetangganya itu mengundang beliau lagi. Lalu beliau bersabda, “Bagaimana dengan orang ini, apakah diajak juga?” Ia berkata, “Tidak.” Beliau bersabda, “Jika begitu, tidak.”
Kemudian orang itu kembali lagi mengundang beliau. Beliau pun bersabda, “Bersama ia?” Ia menjawab, “Ya, boleh.” Kemudian beliau dan Aisyah berdiri. Keduanya berjalan beraturan menuju rumah tetangga beliau tersebut.
9.    Saling membersihkan setelah berhubungan intim
Ibn Qudamah Al Hambali berkata, “Disunnahkan bagi seorang istri mengambil secarik kain untuk diberikan kepada suaminya setelah berhubungan (bersenggama). Dengan secarik kain itu, suaminya dapat mengusap-usap bagian tubuhnya yang harus dibersihkan. Aisyah berkata, ‘Seorang istri yang cerdik harus mengambil secarik kain. Apabila suaminya telah menggaulinya, ia menyerahkan kain tersebut kepada suaminya. Lalu suami mengusap sperma dengan kain itu. Istri pun mengusap sperma atau lainnya dengan kain itu.”
10.  Bersandar di dada istri dan tidur di atas pahanya
Aisyah berkata, “Ketika maut menghampiri Rasulullah, kepala beliau ada di pahaku. Beliau pingsan sesaat, lalu beliau sadar dan pandangannya tertuju ke atap seraya berkata, ‘Ya Allah, pertemukan aku dengan kumpulan orang-orang mulia.’”
11.  Suami istri tidur berpelukan
Aisyah berkata, “Setiap Nabi mandi junub, beliau sering datang dan mencari kehangatan denganku. Aku mendekap beliau untuk menghangatkannya, padahal sedang aku belum mandi.”
12.  Mengajak istri ketika berpergian ke luar kota
Apabila Rasulullah hendak keluar kota, beliau suka mengundi istri-istri beliau untuk memutuskan siapa yang akan ikut bersama beliau. Lalu undian itu jatuh pada Aisyah dan Hafshah. Kemudian keduanya keluar bersama beliau. Apabila datang waktu malam, beliau berjalan bersama Aisyah sambil berbincang-bincang.
13.  Menyuapi istri
Rasulullah bersabda, “Tidak semata-mata kamu memberi satu nafkah dengan niat mengharap wajah Allah, kecuali kamu akan diberikan pahala, termasuk suapan yang kamu suapkan ke ulut istrimu.”
14.  Mencium istri setiap waktu
Aisyah meriwayatkan, Rasulullah menciumnya saat beliau sedang berpuasa. Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya ciuman itu tidak membatalkan wudhu dan tidak membatalkan puasa.” Lalu beliau bersabda, “Wahai Humaira, sesungguhnya dalam agama itu terdapat kelapangan.” Beliau berpuasa dan mencium bagian mana saja dari wajah Aisyah hingga berbuka.
15.  Suami mengantar istri ketika keluar
Shafiyah binti Huyay, istri Rasulullah, berkata, “Rasulullah sedang beritikaf. Kemudian aku menjenguk beliau pada malam hari. Aku berbincang-bincang dengan beliau. Lalu aku berdiri untuk pulang. Beliau ikut berdiri bersamaku seraya berkata, ‘Jangan terburu-buru hingga aku mengantarmu.’”
16.  Suami istri berjalan-jalan di malam hari
Apabila Rasulullah hendak keluar kota, beliau suka mengundi istri-istri beliau untuk memutuskan siapa yang akan ikut bersama beliau. Lalu undian itu jatuh pada Aisyah dan Hafshah. Kemudian keduanya keluar bersama beliau. Apabila datang waktu malam, beliau berjalan bersama Aisyah sambil berbincang-bincang.
17.  Istri menyisir rambut suaminya
Aisyah berkata, “Sewaktu Nabi beritikaf, beliau mendekatkan kepalanya kepadaku. Kemudian aku menyisirnya, sedang aku dalam keadaan haid.”
18.  Istri menaburkan parfum ke badan suaminya
Aisyah berkata, “Aku menaburkan wewangian ke badan Rasulullah, kemudian beliau menemui istri-istrinya. Lalu beliau berihram dan semerbaklah bau wangi itu.” Aisyah berkata, “Aku telah meminyaki Rasulullah dengan sebaik-baik minyak.”
19.  Ungkapan cinta dan panggilan sayang setiap hari
Rasulullah sering memanjakan Aisyah dengan ucapan, “Wahai Humaira.” Humaira adalah tashghir (bentuk kata yang menunjukkan sesuatu yang mungil) untuk memanjakan dan menunjukkan kecintaan. Kata Humaira berasal dari kata yang berarti putih kemerahan.
Selain itu, beliau juga sering memanggil Aisyah dengan sebutan “Wahai Aisy.” Dengan memakai gaya bahasa tarkhim (membuang huruf terakhir) untuk menunjukkan kemanjaan dan kesayangan.
Beliau bersabda, “Wahai Aisy, ini adalah malaikat Jibril. Ia menyampaikan salam untukmu.” Lalu Aisyah menjawab, “Bagi Jibril keselamatan, rahmat, dan berkah Allah.”
20.  Meletakkan pipi di atas pipi
Aisyah berkata, “Rasulullah sedang duduk, kemudian kami mendengar suara gaduh anak-anak. Kemudian beliau berdiri. Ternyata ada seorang perempuan Sudan sedang menari dan anak-anak berada di sekelilingnya. Beliau berkata, ‘Wahai Aisyah, kemari dan lihatlah.’ Lalu aku menjawab, ‘Ya.’ Lalu beliau memberdirikanku (menggendongku) di belakang beliau, sementara pipiku di atas pipi beliau. Aku letakkan daguku di atas bahu beliau.”
21.  Suami istri membiasakan olah raga
Aisyah berkata, “Aku keluar bersama Rasulullah dalam sebuah perjalanan. Saat itu aku masih ramping. Lalu kami berhenti. Beliau berkata kepada para sahabatnya, ‘Majulah kalian terlebih dahulu.’ Kemudian beliau berkata kepadaku, ‘Kemarilah, aku berlomba denganmu.’ Beliau berlomba denganku, lalu aku mampu mendahuluinya. Di waktu yang lain, aku keluar bersama beliau dalam sebuah perjalanan. Saat itu badanku sudah gemuk. Lalu kami berhenti di sebuah tempat pemberhentian. Beliau berkata kepada para sahabatnya, ‘Majulah kalian.’ Lalu beliau berkata kepadaku, ‘Kemarilah, kita berlomba lagi.’ Lalu aku berkata, ‘Bagaimana aku bisa berlomba denganmu sedang keadaanku sudah seperti ini?’ Beliau menjawab, ‘Engkau pasti bisa.’ Beliau berlomba denganku, lalu beliau mendahuluiku. Beliau menepuk bahuku seraya berkata, ‘Ini adalah balasan dari (perlombaan) yang dulu.’”
22.  Memberikan kesenangan kepada istri
Ada seorang perempuan menghadap Rasulullah kemudian beliau bersabda, “Wahai Aisyah, tahukah engkau siapakah orang ini?” Aisyah menjawab, “Tidak, wahai Nabi Allah.” Beliau berkata, “Ini adalah budak yang pandai bernyanyi yang berasal dari Bani Fulan. Maukah engkau bila ia bernyanyi untukmu?” Aisyah menjawab, “Ya.” Lalu beliau memberikan sebuah talam kepada perempuan itu untuk menyanyi.
23.  Memperhatikan perasaan istri
Anas bin Malik berkata, “Rasulullah mengadakan walimah saat menikah dengan Zainab binti Jahsy. Orang-orang kenyang dengan roti dan daging. Kemudian beliau keluar menuju kamar istri-istri beliau, sebagaimana yang biasa beliau lakukan, di hari pernikahan beliau. Beliau mengucapkan salam kepada mereka, lalu mereka menjawab salam beliau. Beliau mendoakan mereka dan mereka mendoakan beliau.”
Sumber : Mohammad Ferandy

Jumat, 31 Maret 2017

ADAKALANYA, ISTRI BOLEH TAK PATUH JUGA

“Jika seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, berpuasa di bulan Ramadhannya, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang engkau suka’.”[1]
Setiap pasangan suami isteri pasti mendambakan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Rumah tangga akan harmonis dan bahagia jika masing-masing dari keduanya merasakan ketentraman, cinta, dan kasih sayang. Namun semuanya itu tidak akan pernah terwujud kecuali jika setiap pasangan mengerti dan memahami tugas masing-masing. Sebagaimana keduanya memiliki hak, keduanya juga mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan dengan penuh tanggung jawab.
Kewajiban utama seorang suami adalah menjadi kepala rumah tangga, pemimpin dalam komunitas keluarga, yang bertanggung jawab mengayomi, melindungi, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan anggota keluarga. Sedangkan kewajiban utama seorang istri adalah menaati dan melayani suami.
Dalam konteks kewajiban taat seorang istri kepada suaminya, Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam – pernah bersabda,
“Sekiranya aku boleh) memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain, niscaya akan kuperintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya.”[2]
Melalui hadits mulia ini, Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam – ingin menyampaikan pesan kepada para istri, bahwa suami memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Suami layaknya nahkoda yang mengatur jalannya rumah tangga kala mengarungi lautan kehidupan. Maka semestinya ia ditaati, bukan didurhakai, seharusnya ia diikuti, bukan dikhianati. Dan seorang istri shalihah yang berimana kepada Allah dan RasulNya, tidak akan memandang kewajiban taat ini sebagai bentuk diskriminasi terhadap wanita, kekerasan dalam rumah tangga, atau pelanggaran terhadap hak asasi manusia, sebagaimana yang diklaim oleh orang-orang kafir dan para pengekor mereka. Akan tetapi, ia akan memandang bahwa kewajiban taat ini merupakan bentuk ketaatan kepada Allah yang telah menciptakanNya, menciptakan suaminya, dan menciptakan adanya hubungan suci nan mulia di antara keduanya. Ia akan mengatakan, “Kami dengar, dan kami taat”, kemudian ia akan menunaikannya dengan penuh ketulusan dari lubuk hati dan keikhlasan karena mengharap ridha Ilahi.
Namun yang perlu dipahami di sini adalah, sejauh manakah kewajiban taat seorang istri kepada suaminya? Apakah ia merupakan ketaatan mutlak tanpa batas? Ketaatan yang menjadikan istri layaknya budak kepada tuannya? Ataukah ada suatu kondisi di mana ketaatan itu boleh dilanggar, atau bahkan wajib didurhakai?
Dalam hal ini, Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam – telah menggariskan satu kaidah agung yang harus dipahami dengan penuh keimanan oleh masing-masing pasangan. Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda,
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal kemaksiatan kepada Allah Azza wa Jalla.”[3]
Beliau – shollallohu ‘alaihi wa sallam – juga bersabda,
“Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam hal yang ma’ruf.”[4]
Ya, ketaatan istri kepada suami bukan hanya karena suami telah menafkahinya, melindunginya, dan memenuhi segala kebutuannya. Akan tetapi lebih dari itu, ketaatan istri kepada suami adalah merupakan bentuk ketaatan kepada Allah ta’ala. Karena Allah telah memerintahkan istri untuk taat kepada suami. Oleh karena itu, ketaatan seorang istri kepada suaminya harus disesuaikan dengan ketaatan kepada Allah ta’ala. Sebab, jika kewajiban taat dan patuh kepada suami sangatlah besar, maka kewajiban taat dan patuh kepada Allah, tentu lebih besar lagi, karena Allah-lah yang telah menciptakan ia dan suaminya, dan mengikatkan tali cinta suci di antara keduanya.
Artinya, kepatuhan istri kepada suami dibatasi pada hal-hal yang tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah ta’ala. Jika sang suami memerintahkannya melakukan suatu kemaksiatan –sekecil apa pun kemaksiatan itu-, maka sebesar apa pun kecintaannya kepada sang suami, ia tidak boleh mematuhinya.
Di antara contoh perintah suami yang tidak boleh ditaati oleh istri:
1.     Suami menyuruh istri berbuat syirik atau kufur
Jika suami memerintahkan istrinya untuk melakukan atau membantu suatu perbuatan syirik; menyuruhnya pergi ke dukun, mencari penglaris untuk dagangan, mengalungkan jimat pada anaknya, atau apa pun bentuk kesyirikan itu, maka istri tidak boleh patuh dan wajib membantah perintah suaminya, meski sang suami tidak senang, tidak ridha, murka, atau bahkan hendak menceraikannya. Bahkan dalam suatu kondisi, apabila sang suami tidak bisa dinasihati, tidak mau bertaubat dari kesyirikannya, sang istri boleh menggugat cerai dari suaminya yang musyrik. Karena keberadaannya di sisi suami, akan mengancam akidahnya. Suaminya yang musyrik itu akan dapat menjerumuskannya ke dalam kemurkaan Allah Azza wa Jalla. Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda,
 “Barangsiapa mencari keridhaan Allah dengan kemurkaan manusia, niscaya Allah akan mencukupinya dari tuntutan manusia, dan barangsiapa mencari keridhaan manusia dengan murka Allah, niscaya Allah akan menyerahkannya kepada manusia.”[5]
2.     Suami menyuruh istri berbuat bid’ah
Di samping kesyirikan, penyakit kronis yang sudah mendarah daging pada masyarakat kita adalah banyaknya perbuatan bid’ah yang sudah dianggap sebagai sunnah. Padahal, melakukan bid’ah merupakan bentuk kedurhakaan kepada Allah ta’ala dan RasulNya – shollallohu ‘alaihi wa sallam -. Oleh karena itu, jika suami memerintahkan istri untuk melakukan amalan bid’ah atau membantu suami merayakan ritual-ritual bid’ah, maka di sini pun istri tidak boleh patuh.
3.     Suami menyuruh istri membuka aurat
Mengenakan jilbab (busana syar’i wanita Muslimah) hukumnya wajib. Jika suami memerintahkan istri untuk melepas kerudungnya atau membuka aurat lainnya, dengan alasan untuk pekerjaan atau apa pun alasannya, maka istri tidak boleh mematuhinya. Jika istri mematuhinya, berarti ia telah durhaka kepada Allah ta’ala. Allah berfirman, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 59).
4.  Suami menyuruh istri membeli rokok
Meski rokok belum ada di zaman Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam -, namun Islam telah datang dengan membawa nash-nash umum yang mengharamkan segala sesuatu yang mudarat, keji, menjijikan, mengganggu orang lain, menyia-nyiakan harta, tidak ada manfaatnya, serta membinasakan, dan rokok telah mengumpulkan segala keburukan ini, oleh karena itu semua ulama ahlus sunnah telah sepakat bahwa rokok hukumnya haram[6], sehingga istri tidak boleh patuh jika suami minta dibelikan atau dicarikan rokok, karena itu merupakan bentuk tolong menolong dalam kemaksiatan, dan jika istri patuh dalam hal ini, maka ia akan berdosa.
5.     Suami minta dilayani di ranjang, sedangkan istri dalam keadaan haidh, atau suami minta jimak melalui dubur
Istri tidak diperkenankan menolak ajakan suaminya untuk berhubungan intim, jika istri menolak (tanpa alasan syar’i), maka ia akan dilaknat hingga suaminya itu ridha.[7] Namun demi suatu hikmah dan kemaslahatan, Islam telah mengatur rambu-rambu bagi suami istri dalam berhubungan intim, dan jika rambu-rambu itu dilanggar, maka mereka akan terjatuh ke dalam dosa. Di antara rambu-rambu itu adalah tidak boleh berhubungan intim ketika istri sedang haidh, oleh karena itu istri harus menolak ajakan suami untuk berhubungan intim jika ia sedang haidh. Namun dalam kondisi seperti ini keduanya boleh melakukan apa saja selain jimak. Demikian juga apabila suami mengajak istri untuk berhubungan intim melalui dubur, maka ia juga harus menolaknya. Jika tidak, maka keduanya justru akan mendapatkan murka dari Allah ta’ala. [8]
Dan demikianlah seterusnya, segala bentuk perintah suami yang mengandung kemaksiatan serta kedurhakaan kepada Allah, maka istri tidak boleh mematuhinya. Namun yang perlu diperhatikan dan dipahami oleh istri adalah, bahwa ketika suami memerintahkannya melakukan satu kemaksiatan, bukan berarti itu menggugurkan ketaatan istri secara keseluruhan, akan tetapi kewajiban tidak taatnya itu hanya berkenaan dengan perintah yang mengandung kemaksiatan tersebut. Istri juga tidak diperkenankan untuk serta merta marah, benci, dan menghardik suami yang melakukan atau memerintahkan kemaksiatan. Akan tetapi harus tetap ada usaha untuk menasihati dan memberikan pengertian kepada suami. Dan istri yang shalihah adalah istri yang bisa bijak tatkala menghadapi kesalahan suaminya, bisa memberinya nasihat tanpa terkesan menggurui, bisa mengingatkannya tanpa membuatnya tersinggung. Semoga Allah ta’ala memberikan taufikNya kepada kita semua, amin.

Sumber Majalah Sakinah

Kamis, 30 Maret 2017

MENCEGAH PERSELINGKUHAN





Menjalin suatu hubungan rumah tangga ada saatnya dating masalah dan godaan. Perselingkuhan menjadi salah satu faktor utama rusaknya suatu hubungan. Dengan selingkuh kita selalu memikurkan WIL atau PIL, pasangan sendiri diabaikan.




Berikut Tips agar terhindar dari perselingkuhan :

     1.  Perkuat Iman
     Tanamkan dalam diri bahawa kekuatan keimanan kepada Allah utk senantiasa metaati perintah
     dan menjauhilarangan-Nya dengan berdzikir, berdoa dan berusaha
     2. Kenali tanda bahaya selingkuh
     Kadang alas an selingkuh karena iseng dan sering terjadi di tempat kerja, kampus, atau  sebuah hubungan
     pertemanan yang semakin dekat. Dari iseng bisa terjadi perasaan yang akhirnya selingkuh hati.
     Oleh karenanya jangan sampai hubungan iseng itu memasuki zona berbahaya, dan hentikan jika terlihat 
     potensi bahaya mengancam
      3. Pahami bahaya selingkuh
     Selingkuh hanya membuat hubungan dengan pasangan menjadi hancur berantakan dan bisa kehilangan 
     orang yang sayang dan setia kepada anda dan pastinya memalukan diri sendiri
    4.   Berhenti mencari alas an selingkuh
     Banyak alas an yang bisa menjadi penyebab peselingkuhan, mulai dari pasangan yang kurang perhatian, 
     merasa sudah tidak sejalan, atau hubungan yang terus memburuk 
   5.    Ingat  kembali masa indah
     Ketika hubungan suami istri sedang tidak baik, biasanya ada godaan utk selingkuh. Karena itu perlu 
     menenangkan pikiran terlebih dahulu, rileks dan mencoba mengingat kenangan manis bersama pasangan, 
     atau masa-masa indah ketika pertama kali kenal atau saat jadian.
  6.    Jangan Membandingkan pasangan
     Ketika awal kenal dan menjalin hubungan, pasanga terlihat sempurna. Tapi ketika godaan 
     selingkuh melanda, pasangan jadi kurang berharga, membanding-bandingkan dengan selingkuhan 
     yang baru. 
     Tidak ada orang yang sempurna di dunia iini, sehingga terimalah kekurangan pasangan anda. Yang harus 
     dipahami adalah pasangan anda bukan yang terbaik, tetapi yakinlah bahwa ia yang terbaik utk anda
  7.     Tidak lebih baik dari pasangan
     Fisik boleh saja oke, tapi hati belum tentu. Buang anggapan yang mengatakan bahwa selingkuhan 
     lebih baik dari pasangan sendiri
 8. Meningkatkan chemistry
     Mulailah merayu pasangan dengan menyapa setiap waktu, dan memberinya senyuman manis. 
     Menjaga chemistry akan membangkitkan mood suatu hubungan. Dengan begitu, dia tidak akan dengan 
     mudah tergoda wanita ataupun pria lain.
  9.     Perkuat benteng perasaan
     Kalau tidak tahan godann selingkuh, maka bangun tembok yang kuat dan berhenti berkomunikasi 
     dengan orang yang bepotensi menjadi selingkuhan
 10. Jangan tebar pesona kepada lawan jenis yang bukan pasangan anda
  11.  Kenali tanda bahaya selingkuh
  12   Jangan member perhatian berlebih pada orang lain
  13.   Setia pada pasangan anda
  14    Kontrol pasangan anda

Jangan sampai mengijinkan dan membiarkan pasangan anda berduaan dengan lawan jenis tanapa sepengetahuan anda, baik secara maya ( sms, telepon,, chatting, messenger, email, dsb) atau nyata (berduaan di mobil atau ruang tertutup, dsb )

Selasa, 28 Maret 2017

Doa, Penyelamat Rumah Tangga


Betapa banyak rumah tangga diselamatkan oleh Allah dari kehancuran, karena doa seorang suami  atau istri untuk pasangannya. Doa, bisa mengubah sesuatu yang sepertinya tak mungkin, menjadi mungkin. Tentu saja, dengan izin Allah ta’ala.
Sebagai contoh kongkrit, marilah kita simak penuturan seorang suami yang dahulunya selalu memperlakukan istrinya dengan kasar dan semena-mena. Ia berkata, “Bila aku tidak menemukan pakaianku terletak di tempatnya, langsung saja aku dengan kemarahan dan kalap memukulinya dan menempeleng wajahnya. Begitu juga bila kurang garam dalam makananku. Betapa malangnya dia. Aku bertambah marah dan naik pitam bila dia menasihatiku.  Jika dia menyuruhku shalat, aku pun marah dan justru menghidupkan musik. Kadang aku juga memaksanya menghadiri tempat-tempat atau berbagai pesta yang tidak layak dihadiri oleh seorang wanita muslimah.”

Istrinya pun dihadapkan pada dua pilihan. Meminta cerai, atau bersabar serta mengadukan segalanya hanya kepada Allah ta’ala, serta meminta solusi kepada-Nya? Ia yang masih memiliki rasa cinta kepada suaminya, memilih alternatif kedua. Setiap malam, pada waktu sahur ia bermunajat kepada Allah ta’ala.
Sang suami melanjutkan kisahnya. “Terkadang, di malam hari aku bangun dari tidurku…tidak melihat istriku berbaring di atas ranjang. Maka aku pun bangkit mencarinya. Ternyata ia sedang berdiri menghadap Allah ta’ala dan merintih dalam doanya. Kejadian seperti ini diulanginya berkali-kali.
Hingga pada suatu malam, ketika ia sedang menangis lirih, berdoa kepada Allah dalam shalat malamnya, aku terbangun. Tangisan dan doanya itu telah membangunkanku. Lalu aku merasakan sakit di dadaku. Rasa sakit itu menjadikanku mengingat kembali tentang kehidupanku selama ini, perlakuanku terhadapnya…terbayang…terus terbayang dengan jelas. Sementara ia tetap dalam untaian doanya yang terdengar pilu di telingaku…betapa tidak? Ia memohonkan untukku sebuah hidayah dan kebaikan tingkah laku….
Dengan sigap, aku bangkit bergegas menuju tempat wudhu, yang selama ini selalu kujauhi… Aku mulai berwudhu kemudian shalat berjamaah subuh di masjid. Sejak saat itulah aku mulai mengenali diriku dan istriku dalam posisi yang kontradiktif. Ia penuh kesabaran dan taat beribadah. Sebaliknya diriku, penuh kemarahan dan sangat ingkar terhadap ibadah.”
Bagaimana akhir kisah ini? Mari kita simak penuturan sahabat lelaki itu. Dia berkata, “Demi Allah…sekarang ini aku berharap bisa berbuat seperti yang dia perbuat kepada istrinya…Kepribadiannya begitu sopan, lembut, dan kewaraannya luar biasa. Bertolak belakang dengan sikap sebelumnya….Kini ia terpilih sebagai petugas muadzin di salah satu masjid jami’ di kota kami tinggal. Sungguh jiwanya telah melekat dengan masjid, padahal dahulunya sangat jauh. Maha Suci Allah yang membolak-balikkan hati.” [1]
Contoh-contoh lain bisa kita temui di sekitar kita, atau kita baca pada buku-buku kisah nyata.
Terasa sempitnya hidup ini, atau berbagai gambaran negatif yang sering terbentuk saat melihat kejadian-kejadian di hadapan kita, kerap menyeret kita ke arah ketidakbahagiaan. Salah satu penyebab hal itu adalah keengganan kita mendoakan orang lain. Cobalah Anda berdoa agar Allah ta’ala melapangkan hati pasangan, insya Allah, kelapangan hati pun akan Anda dapatkan.
Ini sejalan dengan hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam,  “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan.  Di atas kepalanya ada malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ’aamiin’ dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.” (Riwayat  Muslim)
Jadi…, mari berdoa untuk pasangan kita tercinta! (Oel)

Footnote:
[1] Sumber: Website al-Jawaahir al Islamiyyah (dikutip dari buku, “Jangan Berputus Asa, Akhirnya Pertolongan Itu Datang…” Ahmad bin Salim Ba Duwailan. Pustaka Ibnu Katsir)