Selasa, 29 November 2016

Tips Bila Satu Rumah Dengan Mertua




Banyak pasangan yang memilih hidup seatap dengan mertua dengan berbagai alasan, seperti factor keuangan, anak, kondisi kesehatan mertua, dsb. Apapunalasannnya tinggal serumah dengan mertua bukanlah hal yang mudah. Tidak sedikit masalah yang membutuhkan pengertian, adaptasi dan kesabaran dari semua pihak.

Berikut tips tinggal dengan mertua :

1.    Tentukan Batasan
       Ada baiknya membicarakan batasan yg perlu dilakukan, misalnya pekerjaan rumah apa saja 
       yang akan menjadi tanggung jawab anda selama hidup bersama agar tidak terbebani 
       satu sama lain

2.    Hindari Perdebatan Keluarga
       Tinggal bersama mertua tdk menutup kemungkinan pasangan anda bersikap seperti 
       anak-anak lagi. Pasangan mungkin saja mersa kesal atau terjebak dalam situasi yg bisa 
       menyebabkan dia bertengkar dengan orang tuanya. Jika pasangan mulai terlibat dalam 
       pertengkaran keluarga, pergilah ke dalam kamar utk meminimalis resiko

3.    Cari Privasi
       Satu hal yg dibutuhkan oleh pasangan menikah, terutama pengantin baru adalah privasi, 
       hal ini mungkin akan sedikit sulit dilakukan jika tinggal satu rumah dengan mertua. Oleh 
       karena itu, sangat penting bagi Anda dan pasangan untuk menentukan area privasi dan 
       meminta agar mertua menghargai dan memahami itu.

4.    Kenali Kebiasaan
       Misalnya, mertua biasa bangun jam berapa, sarapannya apa. Ini penting supaya tidak ada 
       benturan antara kebiasaan anda dan kebiasaan mereka. Ada baiknya menanyakan pada 
       pasangan atau langsung pada mertua dengan obrolan santai.

5.    Pilih Hal Yang Perlu Diperdebatkan
       Selain harus menghindari pertengkaran antara pasangan dengan orang tuanya. Anda juga 
       sebaiknya tidak terlibat dalam perdebatan dengan mertua. Tak jarang mertua memberikan
       komentar atau melakukan sesuatu hal yang mengganggu, dan Anda boleh memberitahunya
       jika merasa hal tersebut sudah di luar batas kewajaran. Misalnya mertua sering masuk ke 
       kamar anda tanpa memberitahu terlebih dahulu, sebaiknya beritahu dia agar mau 
       mengetuk pintu.

6.    Buang Prasangka Buruk
       Perasaan takut kalau tinggal bareng mertua biasanya dialami kaum perempuan. Hilangkan 
       perasaan yang demikian, jangan jadikan figure mertua sebagai sesosok monster yang 
       menakutkan. Insya Allah mertua Anda orang baik, siap menerima anda apa adanya, dan 
       tunjukkan diri anda orang yang terbuka dan berbakti kepada orang tua.

7.    Memahami perasaan pasangan
       Jika anda dicurhati oleh pasangan, maka anda harus santai dan bersikap menyenangkan. 
       Pahamilah bahwa tdk mudah bagi pasangan anda utk beradptasi dengan keluarga anda. Jadi
       berempatilah kepadanya dengan menunjukkan dukungan kepadanya. Kalaupun ia salah, 
       luruskanlah dengan cara yang manis.

8.    Mintalah bantuan jika membutuhkannya
       Tinggal serumah dengan mertua dan saudara ipar bisa memberikan tekanan bagi siapa saja. 
       Jika situasi menjadi tegang dan selalu ada argument setiap hari, maka tidak ada salahnya  
       untuk menemui terapis atau konselor pernikahan. PIhak ketiga yg objektif mungkin bisa 
       membantu mengatasi hal ini dan mengurangi stress anda.

9.    Siap Berbagi
       Misal : membiarkan pasta gigi, sabun mandi, sabun cuci dipakai bersama-sama. Begitu pula 
       kalau habis, segeralah membelinya utk menunjukkan jati diri anda sebagai menanu yang 
       berbakti kepada mertua, karena mertua adalah seperti orang tua anda sendiri.

10.  Menjaga Hubungan dengan Saudara Ipar
       Rasullulah pernah ditanya tentang saudara ipar, maka beliau menjawab bahwa hal itu 
       adalah “maut” (berbahaya). Meski sudah memiliki ipar,namun hubungan anda dengannya 
       adalah mahram karena pernikahan. Artinya ada kemungkinan anda bisa menikah dengannya 
       seandainya terjadi perceraian dengan pasangan anda. Jadi tetaplah santun kepadanya, 
       berpakaian islami, tdk berkhalawat dengannya, apalagi bercanda yang berlebihan.

11.  Curhat kepada pasangan jika ada masalah
       Ada saja gesekan-gesekan antara anda dengan mertua, sengaja ataupun tidak sengaja. 
       Karena itu, perlu dicari jalan keluarnya dengan curhat pada pasangan dengan penyampaian 
       yang baik, bukan utk menjatuhkan citra orang lain, melainkan utk mencari solusi

12.  Hormati yang tua, sayangi yang muda
       Ini adalah salah satu pesan dari Rasullulah kepada umatnya. Mengingat penghuni rumah 
       beragam, mulai dari mertua, adik ipar, kakak ipar, dsb. Oleh karena itu, jagalah baik-baik 
       pesan ini, menuju predikat menantu idaman.

13.  Bersabar
       Kalau anda ditegur mertua harus banyak bersabar. Anggaplah itu sebagai pembelajaran. 
       Kalaupun ada kekurangan mertua, terimalah sebagai manusia, karena mertua juga manusia.


Memilih Jodoh yang Tepat




Sahabat muslim , urusan Jodoh itu ditangan Allah, nah lalu bagaimana cara mengenali jodoh dalam islam. Tips ini berguna bagi anda yang sedang mencari jodoh . Tanda jodoh dalam Islam itu adalah 3 M.

Apa itu? Siapa yang paling bisa memaklumi, memaafkan dan memberi. Insya Allah dia jodoh anda. Jadi kalau mau mencari jodoh, carilah yang bisa melakukan memaklumi, memaafkan dan ingin selalu memberi supaya hubungan cinta dapat langgeng dan tidak rapuh. Jadi jodoh itu tidaklah didasarkan nafsu duniawi, ganteng, kaya namun lihatlah kokoh aqidahnya, rajin ibadah dan indah akhlaknya.

Sahabat muslim , Kebahagiaan didalam hidup ini kita bersama jodoh kita bisa mengarungi bahtera kehidupan dalam menghadapi badai & gelombang kehidupan. Komunikasi, saling menyesuaikan diri dengan pasangan, pengorbanan, ingin selalu memberi, memaklumi & memaafkan hanya akan hadir bila di dalam hati kita ada keimanan pada Allah maka Allah melimpahkan keindahan dalam hidup kita bersama orang yang kita cintai.


“Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekuarngan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang2 yang sabar, yaitu orang2 yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan, 'Inna lillahii wa innaa ilaihi raajiuun' (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami kembali). Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurnah & rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang2 yang mendapatkan petunjuk.' (QS. al-Baqarah : 155-157).

Kamis, 24 November 2016

Persiapan Muslim Sebelum Menikah






MENIKAH adalah ibadah. Ibadah tidaklah bisa dilakukan dengan sembarangan, harus seuai dengan syariah islamiah (ilmu) seperti yang diperintahkan oleh Alloh SWT. oleh karenanya sangat dianjurkan bagi seorang Muslim yang hendak melaksanakan pernikahan, untuk mengenal dan menggali ilmu tentang tata cara pernikahan yang syar’i, adab-adab dan fadhilah-fadhilah nikah sebagai persiapan spiritual pra nikah.

Muslimah tentu ingin memiliki imam yang baik bukan? Kuncinya adalah apabila seseorang telah berusaha memperbaiki diri, maka Alloh SWT akan memasangkannya dengan pasangan yang baik pula. Alloh SWT berfirman:

"….Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…" ( QS. an-Nur [24]: 26 )

Berikut adalah Persiapan Muslim/Muslimah Sebelum Menikah :

1. Niat yang ikhlas karena Alloh SWT dalam melaksanakan pernikahan, karena segala amal ibadah bergantung 
    pada niat yang tulus hanya kepada Alloh SWT.

2. Lebih giat dan rajin membaca, menelaah dan memahami seluk beluk pernikahan mulai dari ta’aruf sampai 
    pernikahan dan hidup berkeluarga yang sesuai dengan syari’at yang Alloh tetapkan melalui sunnah 
    Rosul-Nya.

3. Berusaha memperbaiki akhlak dengan banyak membaca buku tentang akhlak, serta berusaha 
    mengamalkannya, karena Alloh akan memberatkan timbangan seorang Mukmin yang berakhlak. 
    Rosululloh bersabda:
        
    "Sesuatu yang paling berat dalam timbangan seorang Mukmin adalah akhlak yang baik. Alloh murka kepada
     orang yang bertutur keji dan jorok". (HR. al-Baihaqi )

4. Membiasakan diri mengamalkan hal-hal yang sunnah, agar terbiasa membina keluarga yang penuh dengan 
    amalan-amalan sunnah seperti, bersiwak, berdzikir di waktu pagi dan petang, melaksanakan sholat-sholat 
    sunnah seperti, tahajjud, rowatib, dan lain sebagainya.

5. Berusaha dan berantusias untuk menuntut ilmu, memiliki suatu metode ilmiah yang sesuai dengan 
    kemampuan, meneladani para sahabat dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya, karena menuntut ilmu 
    merupakan suatu ibadah untuk mendekatkan diri kepada Alloh di samping suatu keharusan yang 
    disyari’atkan dan bukan pekerjaan sambilan. Karena hanya dengan ilmulah yang membedakan seseorang 
    dengan yang lainnya. Alloh berfirman :
     
    "Katakanlah: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" 
    ( QS. az-Zumar [39]: 9 )

6. Berusaha melengkapi perpustakaan pribadi dengan buku-buku syar’i seperti, buku tafsir, hadits dan 
    buku-buku lainnya, sebagai rujukan agar hidup dalam berkeluarga lebih terarah dengan syari’at Islam 
    yang benar.

Demikianlah persiapan-persiapan yang perlu di lengkapi untuk menjalani kehidupan berkeluarga yang sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah. Selamat menempuh hidup baru bagi muslimah yang segera melangkah ke dalam ibadah menikah.

Dalam buku "Baarakallaahu laka" Karya Salim A. Fillah disebutkan, secara umum ada 5 hal yang harus dipersiapkan untuk menghadapi pernikahan :

1. Persiapan Ruhiyah (spiritual)
    Ini meliputi kesiapan mental, kesiapan untuk bertanggung jawab, berbagi, dan berlapang dada. Juga 
    kesiapan untuk bisa sabar dan syukur dalam menghadapi semua masalah.

2. Persiapan 'Ilmiyah (Ilmu/Intelektual)
    Ini juga sangat penting, ketika pernikahan berlangsung ada beberapa "Fiqih" yang harus dipelajari. 
    Seperti rukun & syarat sah ijab qibul, dll. Juga Ilmu komunikasi dengan pasangan, ilmu ekonomi untuk 
    mencari nafkah, dsb.

3  Persiapan Jasadiyah (Fisik)
    Gak lucu kan kalo malam pertama ternyata pengantin pria banyak panunya..ataupun kondisi fisik lagi drop, 
    oleh karena itu persiapan fisik ini harus diperhatikan sebelum melangsungkan pernikahan. Apalagi dari 
    penyakit-penyakit yang cukup berbahaya bagi kesehatan reproduksi.

4. Persiapan Maadiyah (Materi)
    Setidaknya untuk mas kawin atau yang lainya Tapi perlu juga persiapkan tabungan untuk modal agar 
    cepat mandiri.

5. Persiapan Ijtima'iyyah (Sosial)
    Maksudnya, siap untuk bertetangga, siap bagaimana hidup rukun bermasyarakat, dll. Tak kalah pentingnya 
    juga harus ada visi dan misi dakwah di lingkungan masyarakat.

"ROBBANAA HABLANAA MIN AZWAAJINAA WADZURRIYYAATINAA QURROTA A'YUN WAJ ‘ALNAA LIL MUTTAQIINA IMAAMAA".
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa". (Q.S. 25 : 74)


BILA KEMESRAAN MULAI PUDAR

Kemesraan , kelihatannya sepele, namun faktor ini adalah salah satu bagian penting guna menjaga keharmonisan sebuah rumah tangga. Banyak keluarga yg merasa kehilangan “harta” ini ketika usia pernikahan sudah di atas belasan tahun, atau alas an usia. HUbungan suami istri (meski rutin dilakukan) hanya akan menunai kejenuhan jika tidak dibarengi dengan suasana yang mesra dan romatis.

Bermesraan adalah upaya suami istri utk menunjukkan saling kasih sayang dalam bentuk lisan maupun bahasa isyarat. Ucapan yang manis, kata-kata yang manja, dan ajakan yg lembut, adalah bentuk kemesraan lisan yg bisa dilakukan pasangan suami istri. Sedang sentuhan tangan dan gerak tubuh lainnya adalah kemesraan dalam bentuk bahasa isyarat, namun kemesraan secara lisan saja belum cukup tanpa disertai kemesraan dengan bahasa isyarat.
Untuk menunjukkan bahwa pasangan suami istri yg sudah mengarungi bahtera rumah tangga lebih dari 20 tahun masih bisa menjalin kemesraan dan keromatisan, Rasulullah SAW telah member isyarat yg patut dicontoh bagi pasangan yg tidak muda lagi.

PANGGILAN MESRA
            Jika biasanya seorang suami memanggil istri atau sebaliknya dengan panggilan nama biasa ( tanpa kata sandang dik, atau yang lainnya), mulailah memanggil dengan panggilan yang anggun dan romantic. Rasul SAW biasa memanggil  ‘Aisyah dengan beberapa nama panggilan yang disukainya, seperti  ‘AIsyah dengan sebutan Khumairo (pipi merah delima). Begitu indahnya Rasul SAW memanggil dengan kata-kata mesra kepada para istrinya. Hal ini mengisyrakatkan betapa pentingnya komunikasi, karena bahasa tubuh akan lebih efektif menyatakan cinta dan kasih sayang antara suami dan istri.

BERHIAS BERSAMA
            Buatlah suasana rumah tangga seperti ketika masih pengantin baru. Misalnya dengan melayani suami atau istri dalam berhias dengan perasaan yang tulus dan mesra. Misalnya menyisir rambut suami atau istri seperti yang pernah dilakukan para istri Rasul SAW terhadap beliau. Dari ‘Aisyah, ia berkata,” Saya biasa menyisir rambut Rasulullah SAW, saat itu saya sedang haidh.” (Riwayat Ahmad). Atau member parfum ke tubuh suami atau sebaliknya. ‘Aisyah berkata,” Sesungguhnya Nabi SAW apabila meminyaki badannya , beliau memulai dari auratnya dan mengolesinya dengan nurah (sejenis bubuk pewangi), dan istrinya meminyaki bagian lain seluruh tubuhnya,” (HR Ibnu Majah).

TAK MEMBEDAKAN MESKI SEDANG HAID
            Hal ini sering ditemui, ketika isteri sedang haid suami bersikap beda ( agak menjaga jarak). Sikap-sikap seperti ini hendaknya dijauhi karena banyak anjuran Rasul yg selalu dekat dan mesra meski isterinya sedang haid.
            “Ketika beliau sedang berada dalam satu selimut dengan ‘Aisyah, tiba-tiba ‘Aisyah bangkit. Beliau kemudian bertanya,” Mengapa engkau bangkit?” Jawabnya, “ Karena saya haidh, wahai Rasulullah,” Sabdanya,”Kalau begitu pergilah, lalu berkainlah dan dekatlah kembali kepadaku,” Aku pun masuk, lalu berselimut bersama beliau,” ( Riwayat Sa’id bin Manshur).
            Dari ‘Aisyah, ia berkata,” Saya biasa minum dari muk (gelas) yg sama ketika haidh, lalu Nabi SAW mengambil muk tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat saya meletakkan mulut saya, lalu beliau minum, kemudian saya menghirup isinya, kemudian beliau mengambilnya dari saya, lalu beliau meletakkan mulutnya pada tempat saya meletakkan mulut saya,lalu beliau menghirupnya,” (HR. Nasai)

MANDI BERSAMA
Tak hanya menyegarkan badan saja. Mandi bersama juga salah satu cara yang ampuh utk mengeratkan kembali hubungan suami istri, membangun kembali benang-benang kemesraan yg telah kusut serta menjaga keharmonisan yang sempat hilang.

Di sisi lain, suami istri yang mandi di tempat yg sama dan keduanya saling beperlukan, baik di bawah pancuran ataupun di dalam  bak mandi akan menambah kecintaan dan kasih sayang . Istri akan mearsa tenang, tentram, dan mengerti bahwa seorang istri bukan hanya tempat utk menyalurkan naluri seksual saja. Melainkan dia juga seorang wanita yang begitu terhormat dan memiliki kedudukan pada diri suaminya. Begitu pula seorang suami akan merasakan kesenangan yang memuncak dan perasaan yang begitu menggebu tatkala dia mampu menggembirakan istrinya dan memeluknya di saat mandi.
            Suami atau istri saat mandi bersama dapat kegembiraan di sela-sela mandi sehingga dapat memperkuat ikatan di antara keduanya, serta dapat menambah kelembutan dan kasih sayang. Khususnya jika terjadi gurauan ringan dan pemainan yang menyenangkan di sela-sela mandi, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi SAW bersama ‘Aisyah, diantaranya :
            Aisyah berkata : “Aku mandi bersama Rasulullah SAW dalam satu bejana, dalam satu wadah, tangan kami saling bergantian (mengambil air). Dan Aisyah menunjuk pada bejana yg berada  di dalam rumah seukuran enam qisth. Aku mendahuluinya dan dia mendahului (mengambil wadah) sampai-sampai dia berkata “Tinggalkan untukku. Dan aku berkata”Tinggalkan untukku, tinggalkan untukku, sisakan untukku, sisakan untukku (beliau menciduk sebelum Aisyah, dan Aisyah menciduk sebelum  beliau).”(HR Nasai Ahmad).

MALU DAN CANGGUNG
            Bagi wanita yang sangat  kaku, keras , sangat pemalu, sehingga enggan untuk mandi dengan alas an karena telanjang dan menyangka bahwa perbuatan ini hukumnya haram atau makruh, atau aib, yang tak layak dilakukan adalah contoh sikap-sikap seorang istri yg tidak bisa menempatkan pada tempatnya. Aisyah dan Ummu Salamah menolak pemikiran yang terbelakang ini. Dan keduanya menjawab bahwa keduanya pernah mandi bersama Nabi dari satu bejana.
            Imam Malik bin Anas dan Asbagh bin Faraj berkata,” Seorang laki-laki diperbolehkan melihat kemaluan istrinya,” (dinukil An-Nawadirwa Az-ziyadat dan kitab lainnya).
            Dalam hal ini, hujjah Imam Malik adalah  bahwa Nabi SAW mandi bersama Aisyah dalam satu bejana, keduanya menciduk air darinya bersama-sama, dan keduanya saling melihat satu sama lain.


            Nah, masih kurang apalagi bentuk kemesraan yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW bila suatu pasangan sudah mulai dilanda kejenuhan? Dan sudahkah kita bermusahabah (bercermin) utk melihat apa yang telah kita lakukan utk suami-isteri kita tercinta guna menjaga kemesraan ini ?

Senin, 21 November 2016

Kiat Menjadikan Rumahku Surgaku-Baiti Jannati

Rumah adalah suatu bangunan yang digunakan sebagai sarana untuk berlindung, berteduh dari segala sesuatu yang akan mengancam kehidupan manusia. Karena itu rumah dibangun sesuai dengan perkembangan peradaban manusia. Rumah juga menjadi simbol kebanggaan, kemegahan, kesejahteraan, bahkan kekuatan. Karena itu di dalam rumah juga dilengkapi sarana-sarana pendukung. Didalam rumah dibuat kamar-kamar, ada kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu, ruang belajar, tempat shalat, ruang keluarga, ruang dapur, garasi, gudang dan lainnya.

Megah atau tidaknya suatu rumah tidak menjadi jaminan anggota keluarganya betah tinggal dirumah. Banyak terjadi kasus ketika suami istri berangkat kerja, anak-anak diasuh oleh para pembantu dan tv, akhirnya komunikasi orang tua dengan anak semakin jauh, berangkat dari hal ini anak-anaknya berkembang sesuai dengan pergaulannya. Pengaruh teman sangat dominan, sehingga tidak terjadi keharmonisan dalam keluarga. Demikian pula banyak terjadi suami bermain selingkuh dengan pembantunya, atau seorang istri juga mempunyai pria idaman lain. Dengan demikian hubungan mereka menjadi kaku, komunikasi yang dibangun hanya bersifat lahiriyah, adapun hatinya berpaling pada orang lain.

Ada lagi rumah tangga yang salah satu anggota keluarganya bekerja dan yang lain tinggal dirumah, katakan saja misalnya suami yang bekerja dan istri yang berada di rumah. Ternyata setiap kali suami pulang kerja di rumah tidak ada makanan, bahkan kadang istri sedang ngrumpi dengan tetangganya.
Dengan demikian rasa letih dan capek yang seharusnya mendapat sambutan ternyata tidak ada yang menyambut. Maka jadilah percekcokan. Satu sama lain sama-sama egoisnya mempertahankan pendapatnya dengan mengumbar nafsu. Demikian pula dalam keluarga yang selalu memandang harta kekayaan masih kurang bila dibandingkan dengan yang lain, sehingga muncul keinginan untuk mencukupi kebutuhaanya dengan cara-cara yang tidak wajar, misalnya mencari pinjaman dengan melebihi dari panghasilan yang diperoleh tiap bulannya, atau yang lebih parah lagi melakukan kegiatan tindak penipuan, perampokan, bahkan mengedarkan uang palsu atau menjadi Bandar Narkoba. Bahagiakah keluarga yang dibangun dengan cara yang demikian ini?

Ada suatu kisah keluarga besar di masyarakat pedesaan, antara keluarga terjalin komunikasi yang baik, dengan tetangga saling menolong, saling menghurmati, bahkan pendidikan anak berlangsung secara alami. Rumah mereka dari bangunan yang sederhana, beratapkan rumbia, berdindingkan dari bambo, tidak memakai eternity, rumah mereka hanya dipisahkan kamar tidur yang merupakan tempat privasi suami istri. Sekalipun penghasilannya pas-pasan, makan dan minum hanya sekedarnya saja, bahkan makanan hanya sekedar untuk menegakkan punggung namun kehidupannya nampak bahagia.

Pada zaman Rasulullah SAW pernah ada seorang wanita tua yang bernama Ibu Muti’ah. Suatu saat Rasulullah SAW memerintahkan kepada putrinya Siti Fatimah, bila ingin menjadi wanita yang mulia belajarlah kepada Muti’ah, dia tinggal dikampung yang cukup jauh. Segeralah Siti Fatimah berangkat dengan ditemani putranya Hasan, setelah berjalan cukup jauh sampailah pada rumah yang dimaksud, lalu dia mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Setelah disambut, dipersilahkan Fatimah untuk masuk ke dalam rumah, dan Hasan disuruh untuk tetap tinggal diluar, karena didalam rumah tidak ada orang laki-laki.

Setelah dipersilahkan duduk, Fatimah menengok sisi kanan, kiri, atas bawah. Dalam hati berkata, apa kelebihan wanita ini hingga ayahandanya menyuruh berguru kepadanya. Dilihatnya di pojok ruangan terdapat baskom berisi air, lalu kain lap dan cemeti. Fatimah bertanya, untuk apakah benda-benda tersebut. lalu dijelaskan bahwa ketika suaminya pulang kerja, suaminya lalu disambut, karena melihat nampak kusut, maka dibilaslah muka, tubuh, tangan dan kakinya. Setelah itu di lap dengan kain yang telah tersedia. Kemudian suaminya beristirahat sejenak sambil menyantap hidangan yang telah disediakan oleh istrinya. Setelah itu suaminya mandi dan menegakkan shalat. Setelah selesai sambil duduk dan hilang rasa capeknya, saya ambilkan cemeti untuk suami sambil saya berkata. Wahai kanda, jika pelayanan saya kepadamu masih kurang saya mohon, kanda untuk menyambuk saya sebagai tebusan atas kelalaian saya.

Siti Fatimah terkejut lalu bertanya lagi, bagaimanakah sikap suamimu? Dia menerima cemeti lalu diletakkan di sebelah tempat duduknya, dan dia menarik tanganku lalu memelukku dengan penuh kasih sayang. Dari kejadian tersebut barulah Siti Fatimah mengetahui, mengapa rasul memerintahkan untuk belajar kepada Ibu Muti’ah.

Karena itu bersyukur bila kita diberikan kemampuan untuk membangun rumah sesuai dengan perkembangan zaman, dan wujud syukurnya hendaknya keindahan dan kemegahan rumah diimbangi dengan keikhlasan dalam menegakkan syariat Allah, dan semangatnya didalam malaksanakan amar makruf nahi munkar. Keluarga merupakan bangunan suatu negara yang paling kecil, agar banguan tersebut tetap menjadi keluarga idaman, rumah yang mendatangkan kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan penghuninya dapat melakukan kiat-kiat sebagai berikut:

1. Menjaga dan melaksanakan hak dan kewajiban setiap anggota keluarga.
 “…. dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf, akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS. Al Baqarah: 228)

2. Saling menasehati di dalam melaksanakan kebenaran, kesabaran dan keikhlasan atas dasar kasih sayang dengan cara yang baik.
 “ Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al Ashr: 2-3)
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 159)

3. Seluruh anggota keluarga yang meliputi suami, istri anak-anak dan anggota yang lain saling berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mewujudkan surga dunia dan akhirat.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui.” (QS. Ali Imran: 133-135)

4. Selalu bertolong-menolong dan bekerja sama dalam melelaksanakan kebajikan dan taqwa. Mereka akan senantiasa mengerjakan keburukan, permusuhan dan perbuatan dosa lainnya.
 tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (QS. Al Maidah: 2)


Keluarga merupakan bangunan negara yang paling kecil, sehingga untuk mewujudkan bangunan rumah tangga yang kokoh tiada pilihan kecuali setiap anggota keluarga untuk menyibukkan diri pada hal-hal yang baik. Membiasakan diri melakukan yang baik untuk memberi dan menjadi teladhan dalam keluarga. Walaupun suami adalah merupakan kepala keluarga, namun bisa jadi akan mencontoh pada istri dan anak-anaknya dalam ketaatan kepada Allah. Sesungguhnya rapuhnya bangunan rumah tangga sering dipicu oleh pihak ketiga, yaitu syetan yang mengajak dan membisikkan hawa nafsunya sehingga melakukan hal-hal yang tidak baik. Ketika nilai-nilai kebaikan dalam keluarga senantiasa menjadi kebiasaan hidup niscaya bisikan hembusan nafsu syetan akan sirna. Namun karena syetan selalu menciptakan tipu muslihat maka setiap anggota keluarga agar mengaca pada orang-orang shalih. Lihatlah kepada orang yang lebih tinggi dalam hal kesalihannya niscaya akan menjadi hamba yang selalu istiqomah dalam menegakkan syari’at Allah.

Benarkah Pasangan Yang Baik Hanya Untuk Yang Baik ?

Umur bumi sudah sangat tua, banyak sudah cerita yang tercipta, dan zaman menjadi saksi bisu perputaran waktu. Tapi kita tidak layak untuk membisu, kita harus bisa mengambil hikmah dari semua kejadian yang telah terjadi. Ada kisah para anbiya, ada kisah para shohabah yang penuh mahabbah, ada kisah tentang kaum yang Allah selamatkan, ada pula kisah tentang kaum yang Allah binasakan. Semua kisah itu bisa kita temukan di lembaran-lembaran Al-Qur’an dan As sunnah.

Dan pagi hari ini Allah telah menggerakkan bapak saya untuk bercerita sebuah kisah yang tidak ada di dalam Al-Qur’an dan As sunnah. Karena yang bapak ceritakan adalah kisah nyata yang terjadi di zaman yang penuh fitnah. Seperti sekarang wahai ikhwah…

Entah dari mana saya harus menceritakannya. Karena saya memang bukan penulis ulung. Untuk berbicara pun biasanya belepotan. Namun saya tidak bersedih. Karena kepandaian berpidato, kefasihan lidah, dan kelancaran berbicara bukanlah syarat mutlak dalam berdakwah di jalan Allah. Kalimurrahman, Musa AS ialah seorang nabi yang merasakan kakunya lidah dalam memberikan penjelasan, dan beliau memohon kepada Allah dengan ucapannya; wahlul ‘uqdatan min lisaaniy. Jadi, yang terpenting, gairah tebar dakwah dan hikmah selalu merekah.

Oke, kembali ke topik.

Bermula saat tadi pagi saya sarapan berdua dengan bapak. Momen santai seperti ini memang menjadi waktu paling pas, enak, dan cocok untuk ‘transfer’. Transfer kumpulan huruf, transfer kumpulan kata, transfer kumpulan kalimat, dan jadilah seporsi wejangan yang nikmat…
Tapi, dalam kesempatan ini saya urungkan niat untuk bercerita secara detail. Mungkin, intisarinya saja.

Tadi bapak menceritakan seorang wanita yang bapak kenal dan saya juga mengenalnya. Wanita itu berhijab. Bajunya longgar dan jilbabnya lebar. Kostum itu ia kenakan sudah lama, sejak duduk di bangku kuliah. Sekarang umurnya sudah kepala tiga. Dan wanita itu juga termasuk aktivis. Sampai sekarang pun masih aktif duduk di halaqah. Wanita itu sudah menikah, dengan seorang pria. Sudah lama. Mungkin kurang lebih 8 tahun silam. Nah, saya ingin bercerita tentang malam-malam pertama pasutri tersebut.

Singkat cerita, kurang lebih 1 minggu setelah menikah. Si suami komplain sama istrinya (wanita berhijab yang diceritakan bapak). Suaminya komplain, karena menemukan sesuatu yang harusnya tidak ia temukan. (apa ya sesuatu itu???).

Namun si wanita tidak mau menjawab, ia hanya menyuruh suaminya untuk bertanya pada kakak iparnya (suami kakak perempuan si wanita). Dan meluncurlah si suami ke rumah kakak ipar istrinya. Sesampainya di sana, ia langsung menceritakan tentang sesuatu yang harusnya tidak ia temukan di malam-malam pertama pernikahan.
Si suami bercerita bahwa ia dapati istrinya sudah tidak perawan lagi! Kewanitaannya bersih tanpa selaput.

Maka sang kakak ipar menjelaskan. Ternyata, dahulu ketika si wanita masih duduk di bangku SMA, ia mengidap penyakit keputihan. Sudah parah. Dan kakak iparnya itulah yang mengantar untuk berobat. Dokter pertama berkata bahwa penyakit keputihan separah ini tidak mungkin menimpa kecuali kepada wanita yang sudah beberapa kali melakukan hubungan seksual. Untuk yang sudah bersuami, minimal 3 bulan setelah menikah. Ketika itu, si wanita tidak puas dengan jawaban sang dokter dan minta berobat ke dokter lain. Sampai 3 dokter dikunjungi, semua mengutarakan jawaban yang tidak jauh berbeda…

Ternyata, pesan yang ingin bapak sampaikan adalah; “wanita shalihah otomatis akan berbaju longgar dan berjilbab lebar. Karena itu salah satu cirinya. Tapi hati-hati, jangan sampai tertipu oleh baju longgar dan jilbab lebar, karena itu bukan jaminan… meskipun ianya sudah bertaubat, tapi kamu inginnya yang ‘fresh’ kan?”
Sampai di sini mungkin ada yang nyeletuk, “ah santai aja, kalau kita baik pasti dapetnya yang baik juga kok. Kan ada tuh di Al-Qur’an. Surat an-nur ayat 26, Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula).”
AnNur ayat 26

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”

Berangkat dari pemahaman di atas, tentu saja kita bertanya-tanya apakah yang dimaksud baik di sini? Atau keji? Apakah kita dapat menentukan sesuatu itu baik atau tidak baik? Kalau kita cermati, ayat di atas merupakan satu paket ayat yang bersambung ,tidak hanya putus pada kalimat “untuk wanita yang baik” tetapi masih berlanjut dengan bahasan tuduhan , juga ampunan. Artinya ayat ini sebenarnya diturunkan dalam konteks tertentu. Coba kita lihat konteks ayat ini turun (asbabun nuzul);

“Ayat ini diturunkan untuk menunjukkan kesucian ‘Aisyah RA dan Shafwan bin al-Mu’attal RA dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Pernah suatu ketika dalam suatu perjalanan kembali dari ekspedisi penaklukan Bani Musthaliq, ‘Aisyah terpisah tanpa sengaja dari rombongan karena mencari kalungnya yang hilang dan kemudian diantarkan pulang oleh Shafwan yang juga tertinggal dari rombongan karena ada suatu keperluan. Kemudian ‘Aisyah naik ke untanya dan dikawal oleh Shafwan menyusul rombongan Rasulullah SAW dan para sahabat, akan tetapi rombongan tidak tersusul dan akhirnya mereka sampai di Madinah. Peristiwa ini akhirnya menjadi fitnah di kalangan umat muslim kala itu karena terhasut oleh isu dari golongan Yahudi dan munafik jika telah terjadi apa-apa antara ‘Aisyah dan Shafwan.
Masalah menjadi sangat pelik karena sempat terjadi perpecahan di antara kaum muslimin yang pro dan kontra atas isu tersebut. Sikap Nabi juga berubah terhadap ‘Aisyah, beliau menyuruh ‘Aisyah untuk segera bertaubat. Sementara ‘Aisyah tidak mau bertaubat karena tidak pernah melakukan dosa yang dituduhkan kepadanya, ia hanya menangis dan berdoa kepada Allah agar menunjukkan yang sebenarnya terjadi. Kemudian Allah menurunkan ayat ini yang juga satu paket annur 11-26.”

Penjelasan An Nur 26 menurut para ulama
Jika dilihat dari konteks ayat ini, ada dua penafsiran para ulama terhadap ayat ini yaitu tentang arti kata “wanita yang baik” dan juga “ucapan yang baik” Sehingga dapat juga diartikan seperti ini;

“Perkara-perkara (ucapan) yang kotor adalah dari orang-orang yang kotor, dan orang-orang yang kotor adalah untuk perkara-perkara yang kotor. Sedang perkara (ucapan) yang baik adalah dari orang baik-baik, dan orang baik-baik menimbulkan perkara yang baik pula. Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”

Kata khabiitsat biasa dipakai untuk makna ucapan yang kotor (keji), juga kata thayyibaat dalam Quran diartikan sebagai kalimat yang baik.

Hakam Ibnu Utaibah yang menceritakan, bahwa ketika orang-orang mempergunjingkan perihal Aisyah RA Rasulullah saw menyuruh seseorang mendatangi Siti Aisyah RA Utusan itu mengatakan, “Hai Aisyah! Apakah yang sedang dibicarakan oleh orang-orang itu?” Aisyah RA menjawab, “Aku tidak akan mengemukakan suatu alasan pun hingga turun alasanku dari langit”. Maka Allah menurunkan firman-Nya sebanyak lima belas ayat di dalam surah An Nur mengenai diri Siti Aisyah RA. Selanjutnya Hakam Ibnu Utaiban membacakannya hingga sampai dengan firman-Nya, “Ucapan-ucapan yang keji adalah dari orang-orang yang keji…” (Q.S. An Nur, 26). Hadits ini berpredikat Mursal dan sanadnya shahih.

Ayat 26 inilah penutup dari ayat wahyu yang membersihkan istri Nabi, Aisyah dari tuduhan keji itu. Di dalam ayat ini diberikan pedoman hidup bagi setiap orang yang beriman. Tuduhan keji adalah perbuatan yang amat keji hanya akan timbul daripada orang yang keji pula. Memang orang-orang yang kotorlah yang menimbulkan perbuatan kotor. Adapun ucapan-ucapan yang baik adalah keluar dari orang-orang yang baik pula, dan memanglah orang baik yang sanggup menciptakan perkara baik. Orang kotor tidak menghasilkan yang bersih, dan orang baik tidaklah akan menghasilkan yang kotor, dan ini berlaku secara umum

Di akhir ayat 26 Tuhan menutup perkara tuduhan ini dengan ucapan bersih dari yang dituduhkan yaitu bahwa sekalian orang yang difitnah itu adalah bersih belaka dari segala tuduhan, mereka tidak bersalah sama sekali. Maka makna ayat di atas juga sangat tepat bahwa orang yang baik tidak akan menyebarkan fitnah, fitnah hanya keluar dari orang–orang yang berhati dengki, kotor, tidak bersih. Orang yang baik, dia akan tetap bersih, karena kebersihan hatinya.
Yang Baik Hanya Untuk yang baik?

Pembahasan kedua yaitu tentang maksud ayat di atas yaitu “wanita yang baik” dan “wanita yang keji”. Dalam hal ini terjemahan Depag menggunakan arti wanita yang baik dan pemahaman ini berangkat dari para ulama yang menyatakan bahwa Aisyah merupakan wanita yang baik-baik, karena konteks ayat tersebut turun satu paket, yaitu ayat 11-26 dengan ayat sebelumnya tentang seseorang menuduh wanita yang baik-baik berzina. Maka jika diartikan begitu sesuai dengan pertanyaan di atas

”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”

Ayat ini bersifat umum, bahwa wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, begitu juga sebaliknya. Namun yang perlu dipahami adalah ayat ini sebuah kondisi atau memang anjuran, sebab para ulama banyak mengemukakan pendapat tentang hal ini. Syaikh Muhammad Mutawalli as-Sya’rawi, ulama Mesir pernah berkata: ada dua macam kalam (kalimat sempurna) dalam bahasa Arab. Pertama; Kalam yang mengabarkan kondisi atau suasana yang ada.
Kedua Kalam yang bermaksud ingin menciptakan kondisi dan suasana. Kalam seperti ini bisa ditemukan dalam Quran. Seperti firman Allah QS. Ali-Imran: 97: Barang siapa yang memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia. Ayat itu kalau dipahami, bahwa Allah sedang mengabarkan kondisi dan suasana kota Mekah sesuai kenyataan yang ada, maka tentu tidak akan terjadi hal-hal yang bertolak belakang dengan kondisi itu. Akan tetapi, kalau ayat itu dipahami, sebagai bentuk pengkondisian suasana, maka Allah sesungguhnya tengah menyuruh manusia, untuk menciptakan kondisi aman di kota Mekah. Kalaupun kenyataan banyak terjadi, bahwa kota Mekah kadang tidak aman, maka hal itu artinya, manusia tidak mengejewantahkan perintah Allah.

Pemahaman yang sama juga bisa ditelaah pada ayat ini; Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (QS. An-Nur: 26). Pada kenyataan yang terjadi, ternyata, ada laki-laki yang baik mendapat istri yang keji, begitu pula sebaliknya. Maka memahami ayat tersebut sebagai sebuah perintah, untuk menciptakan kondisi yang baik-baik untuk yang baik-baik, adalah sebuah keharusan. Kalau tidak, maka kondisi terbalik malah yang akan terjadi.
Kalau kita bandingkan dengan Annur ayat 3 yang mana kalimat digunakan untuk umum
“laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik” (QS. An Nur ayat 3)

Di ayat ini lebih tegas mengandung “unsur perintah” untuk mencari pasangan yang sepadan. Sehingga ayat 26 bisa dimengerti sebagai sebuah motivasi atau anjuran untuk mengondisikan dan bukan sebagai ketetapan bahwa yang baik “otomatis” akan mendapatkan pasangan yang baik. Hal ini tentu memerlukan usaha untuk memperbaiki diri lebih baik.
Ayat tersebut bukanlah merupakan janji Allah kepada manusia yang baik akan ditakdirkan dengan pasangan yang baik. Sebaliknya ayat tersebut merupakan peringatan agar umat Islam memilih manusia yang baik untuk dijadikan pasangan hidup. Oleh karena itu nabi bersabda tentang anjuran memilih pasangan yaitu lazimnya dengan 4 pertimbangan, dan terserah yang mana saja, namun yang agamanya baik tentu sangat dianjurkan.

Wallahua’lam.


Sumber : Dakwatuna

Selasa, 15 November 2016

Manfaat Situs Pencarian Jodoh



Hai sobat, di jaman yang serba ada ini, marak sekali layanan di internet yang menyediakan forum jodoh atau tempat untuk mencari jodoh secara online. Mungkin situs ini sangat bermanfaat sekali untuk anda yang memiliki tingkat kesibukan yang tinggi. Hingga tidak memiliki waktu untuk sekedar mencari pasangan hidup.

Mungkin ada dari sebagian masyarakat yang masih menganut hukum kuno tentang pernikahan seperti perjodohan. Mengapa kuno? Seakan tidak memberi kebebasan untuk bisa memilih sendiri pasangannya. 
Nah, untuk anda yang tidak suka dijodohkan tapi sudah di desak untuk segera menikah. Kendalanya anda sangat sibuk dengan kegiatan anda sampai- sampai anda tak ada waktu untuk mencari pasangan, kini ada layanan yang di ciptakan khusus untuk anda yang memiliki kesibukan tinggi.

Seperti apakah itu? Anda pasti sering membuka internet, entah itu untuk tugas, pekerjaan, akau sekedar iseng seperti media sosial, untuk masak dan lain- lain.
Cobalah sesekali untuk membuka dan menjelajahi situs yang menyediakan layanan pencari jodoh. Setelah membukanya, anda tertarik? Apa salahnya untuk bergabung sekedar menambah teman dan pengetahuan? Cobalah mulai saat ini. Tak lama kemudian, anda akan mulai menikmati pertemanan anda dengan bebrapa orang yang tak anda jumpai dalam kehidupan anda. Teman- teman yang berbeda baik dari segi karakter maupun pribadinya. Dan mungkin saja itu awal dari proses anda menemukan jodoh idaman anda. 

Setelah akrab dengan beberapa orang, anda akan mulai terfokus pada satu nama. Dan anda mulai yakin itulah jodoh anda. Anda akan semakin dekat dan ingin mengenalnya. Dan biasanya salah satu di antara kalian akan mengajak bertemu di dunia nyata. Siapa tau dia akan serius dan mengajak anda membicarakan tentang masa depan ke jenjang yang lebih serius lagi. Jadi, anda tidak perlu mencari dari ujung dunia untuk mendapatkan jodoh yang anda harapkan.

Berikut beberapa manfaat bergabung dengan situs pencarian jodoh on line :

Memperbanyak pertemanan
Memperbanyak relasi dan pertemanan sangatlah penting untuk kita yang sudah dewasa. Masa di mana kita  sangat sadar akan jati diri kita sebagai makhluk sosial. Yakni saling membutuhkan satu sama lain.
Dengan banyak kenalan akan membuat anda menjadi orang yang mudah bergaul dengan siapapun. Nah, tipe orang yang seperti inilah yang di cari. Tidak pilih- pilih dalam berteman.
Dengan banyaknya teman anda juga bisa membagi kehidupan menjadi 2 hal yang saling berkaitan tapi dengan suasana berbeda sehingga tidak membosankan. Berkorban untuk orang lain terkadang juga perlu diterpkan di kehidupan kita sehari- harinya.

Perluas pengetahuan
Kok bisa?ceritanya seperti ini sobat, dengan banyak teman di dunia maya yang tentunya berada dari bebrapa tempat yang berbeda-beda pasti akan memberikan kita banyak pengetahuan dan pengalaman yang tidak kita dapatkan di lingkungan kita. Sesuatu hal yang baru yang memang tidak ada di sekitar kita karena tiap daeraqh memiliki ciri khas tersendiri.

Pengetahuan yang mungkin tidak di dapat dengan hanya membaca, pengetahuan yang memerlukan praktik dan kerja lapangan yang mungkin sangat di butuhkan oleh pribadi kita. Nah, jadi kita tidak usah bersusah payah mencari guru untuk mengajari hal tersebut.

Meminimalisir rasa grogi
Dengan adanya dunia maya yang notabene tidak nyata, pasti kita tidak akan bertatap muka atau bertemu secra langsung dengan orang yang sedang dekat dengan kita di dunia maya. Jadi, rasa grogi yang mungkin muncul saat kita berhadapan dengan seseorang akan sedikit berkurang dan bahkan akan berubah menjadi rasa percaya diri.,
Itulah beberapa manfaat dari situs pencarian jodoh online. Semoga bermanfaat


AKHWAT TIDAK BOLEH MENOLAK KHITBAH ?


Apakah seorang akhwat tidak boleh menolak khitbah dari ikhwan yang baik agama dan akhlaknya, walau ada keraguan di hati, dan jika menolak akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi ?

Sesungguhnya agama telah memberikan nasihat kepada kita agar memilih calon apsangan hidup itu yang diutamakanaa adalah agamanya, dalam arti pemahaman agamanya yang baik dan lurus, karena banyak orang tua tidak memahami maksud dari kebaikan agama seseorang.

Bahwa yang dimaksud dengan kebaikan agama seseorang, yg paling utama adalah lurus aqidahnya, dan kemudian paham terhadap syariat. Ketahuilah, bahwa berkumpulnya kebaikan itu ada pada calon suami yang baik aqidahnya dan paham syariat. Karena orang yang paham aqidah akan membimbing  keluarganya utk masuk surga dan orang yang paham syariat akan mengetahui apa yg menjadi kewajibannya kepada istrinya, terutama kemauan kerja kerasnya utk mencukupi nafkah keluarganya.

Seorang wanita yg tidak memepertimbangkan kebaikan agama calon suaminya, tentu ia akan mendapatkan kerugian yg besar di kemudian hari. Jika calon suaminya tidak memahami aqidah yang lurus, tentu ia akan mendidik keluarganya cenderung kepada penyimpangan aqidah serta kebid’ahan. Dan jika calon suaminya tidak memahami syariat, bagaimana bisa ia menjamin kecukupan nafkah keluarganya, dan seandainya bisa menjaminpun bagaimana bisa terjamin kehalalan nafkahnya sedangkan ia tidak memahami hala haram ?

Maka akan menjadi kerugian besar terutama di akherat kelak bila seorang wanita mencari calon suami yg tidak mempertimbangkan agamnya, karena ia akan terbawa kepada penyimpangan aqidah dan syubhat-syubhat keharaman. Ini semua tentu akan merugikannya sendiri kelak di akherat. Dan inilah yang dimaksud oleh Nabi SAW dengan fitnah seorang wanita yg menolak khitbah seorang yg baik agamnya, sebagaimana sabda Beliau SAW :


            “Apabila seseorang yg kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian utk meminang wanita kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yg besar,” (Tirmidzi)

Adakah Istri Yang Tidak Cerewet?



Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun sama. Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar. Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun? Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka
Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat. Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat. Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah
Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran. Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan
Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu

4. Pengasuh Anak-anak
Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku,? akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan
Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji. Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya