Pasti semua wanita di dunia ini mendambakan mendapatkan pasangan suami yang ideal menurut kriteria mereka.masing-masing
Seperti Apakah gambaran suami idaman menurut Islam ?
Selain berkewajiban memberi nafkah lahir dan batin, tanggung jawab dan perlindungan, istri juga mendambakan sikap-sikap dari suami, diantaranya adalah :
1. Menempatkan istrinya sebagai wanita terhormat
Istri bukan kuli yang harus bekerja di rumah. Carikan pembantu jika mampu, atau saling
sepakat dan mengerti dalam penyelesaian tugas rumah tangga bersama
2. Segera menemui isteri jika tergoda
Dari Jabir, sesungguhnya Nabi SAW pernah melihat wanita, lalu Beliau masuk ke tempat
Zainab, lalu beliau tumpahkan keinginan beliau kepadanya, lalu keluar dan bersabda,
"Wanita, kalau menghadap, ia menghadap dalam rupa setan.Bila seseorang di
antara kamu melihat seorang wanita menarik, hendaklah ia datangi istrinya,
karena pada diri istrinya ada hal yang sama dengan yang ada pada wanita itu."
(HR. Tirmidzi).
3. Tidak egois
Banyak suami yang egois dimana ketika hubungan intim cari puasnya sendiri. Dalam
Islam dianjurkan untuk seindah dan semesra mungkin sehingga keduanya berakhir dengan
sama-sama puas.
4. Penuh perhatian dan pengertian
Seorang isiteri senang diperhatikan dan disanjung serta ingin tahu bagaimana menanggapi
pesan cintanya itu. Panggil dengan panggilan yang indah. Rasullullah SAW biasa
memanggil Aisyah dengan beberapa nama panggilan yang disukainya, seperti
'Aisy, dengan Humaira (pipi merah delima)
5. Rapi dan wangi
Seorang istri suka suaminya selalu rapi, wangi dan bersih. Jangan tunjukkan aroma yang
tidak sedap, seperti bau badan dan kentut yang dapat menurunkan selera di depan isteri
Dari 'Aisyah, "Sesungguhnya Nabi SAW apabila meminyaki badannya, beliau
memulai dari auratnya dan mengolesinya dengan nurah ( sejenis bubuk pewangi),
dan istrinya meminyaki bagian lain seluruh tubuhnya. "(HR. Ibnu Majah)
Begitu indahnya kemesraan Rasullullah SAW kepada para istrinya, memberikan gambaran betapa Islam sangat mementingkan komunikasi non verbal ini, karena bahasa tubuh ini akan lebih efektif menyatakan cinta dan kasih sayang antara pasangan suami isteri.
Kamis, 01 Desember 2016
Serumah Dengan Pasangan Cerai
Lazimnya setelah ada keputusan bercerai pasangan suami istri memutuskan untuk pisah rumah. Langkah ini ditempuh untuk menghindari perselisihan lebih lanjut. Kalau ada pasangan cerai yang masih tinggal serumah, ini merupakan hal unik yang perlu dipersiapkan secara baik dan benar.
Dampak Negatif
Dilihat dari sudut psikologis, pasangan cerai yang tetap tinggal serumah sama sekali tidak memberi manfaat. Bahkan bisa saja justru menyulut masalah yang lebih besar di antara mantan suami-istri. Meski ada komunikasi, namun biasanya lebih sebatas basa-basi.
Situasi dingin semacam itu akan semakin terasa bila perceraian terjadi akibat ketidakcocokan, percekcokan, dan perselisihan yang membuat mereka akhirnya bercerai. Tinggal serumah kemungkinan besar akan menyulut perang mulut dan adu argumentasi yang tiada akhir, bahkan bisa berujung kekerasan verbal maupun fisik. Kalau hal ini menjadi pemandangan sehari-hari jelas tidak baik untuk perkembangan sang anak. Anak jadi sulit belajar mengembangkan komunikasi yang nyaman dan penuh cinta. Bahkan sangat mungkin situasi yang tidak kondusif ini mendorong anak tumbuh ke arah negatif. Misalnya, ikut berkata dan bertindak kasar, kurang berempati, tidak percaya diri, dsb.
Langkah Terbaik
Pisah tumah setelah bercerai merupakan langkah terbaik untuk mengantisipasi munculnya maslah-masalah lainnya, dan tidak mustahil relasi antara mantan pasangan suami istri bisa jadi lebih baik dan akan timbul rasa hormat dan keinginan untuk saling memaafkan.
Dengan pisah rumah bisa untuk meredam emosi masing-masing, bukan tidak mungkin akan menyadari bahwa sebenarnya mereka masih saling sayang dan membutuhkan. Kesadaran ini akan menjadi dasar yang baik bila suatu saat ingin rujuk kembali.
Namun di sisi lain, terdapat beberapa faktor yang tidak memungkinkan untuk pisah rumah. Misalnya karena faktor ekonomi dimana salah satu pasangan tidak punya pilihan lain selain tetap hidup serumah dengan mantan pasangan, atau juga karena faktor anak yang tidak mau hidup terpisah dari kedua orang tuanya.
Tips Ideal Untuk Antisipasi Dampak Negatif yang muncul
1. Tentukan beberapa hari atau beberapa minggu saja sesuai kesepakatan bersama, hal ini
bertujuan memberikan kesempatan kepada anak agar lebih mudah menjalani masa-masa
transisi proses perceraian kedua orang tuanya
2. Buatlah kesepakatan untuk tidak tidur satu kamar, atau juga hal-hal lainnya terkait
penyebab munculnya nafsu syahwat untuk menghindari perzinahan
3. Buatlah kesepakatan untuk tidak bertengkar atau kontak fisik maupun verbal, terutama
di depan anak-anak.
4. Buatlah kesepakatan untuk tidak menghadirkan atau memperkenalkan calon pengganti
pasangan di rumah untuk menghindari konflik yang lebih besar lagi.
5. Jika hak pengasuhan anak jatuh ke tangan ibu, beritahukan pula kalau nanti sang anak
serumah lagi dengan ayah. Jika sulit menjelaskan ke anak bila perlu minta bantuan
psikolog .
6. Persiapkan mental anak untuk menghadapi perubahan besar dalam hidup mereka.
Berikan penjelasan sederhana kepada anak tentang apa yang terjadi.
7. Orang tua perlu menyampaikan keputusan ini secara bersama-sama, dan mengatakan
cerita yang sama. Anak perlu mendengar langsung dari kedua orang tuanya tanpa
saling menjatuhkan atau menjelekan satu sama lainnya.
8. Orang tua harus menekankan pada anak, bahwa perpisahan ini bukan karena anak.
Kadang kala anak berpikir orangtuanya berpisah karena kesalahan yang mereka lakukan
9. Anak perlu mendengar dari kedua orang tuanya, bahwa kedua orang tuanya berpisah,
namun tidak berpisah dari anak. Orang tua perlu meyakinkan , bahwa meskipun salah
satu orang tua tidak bersama anak seperti seblumnya, namun ia akan tetap
memperhatikan anak.
10.Sampaikan kepada anak bahwa kedua orang tua menyayanginya mereka, dan mereka
akan tetap disayang. Berita perceraian membuat anak merasa sendirian dan takut.
Ekspresikan kasih sayang dalam pelukan, belaian, dan ciuman untuk menghilangkan
rasa takutnya anak.
Dampak Negatif
Dilihat dari sudut psikologis, pasangan cerai yang tetap tinggal serumah sama sekali tidak memberi manfaat. Bahkan bisa saja justru menyulut masalah yang lebih besar di antara mantan suami-istri. Meski ada komunikasi, namun biasanya lebih sebatas basa-basi.
Situasi dingin semacam itu akan semakin terasa bila perceraian terjadi akibat ketidakcocokan, percekcokan, dan perselisihan yang membuat mereka akhirnya bercerai. Tinggal serumah kemungkinan besar akan menyulut perang mulut dan adu argumentasi yang tiada akhir, bahkan bisa berujung kekerasan verbal maupun fisik. Kalau hal ini menjadi pemandangan sehari-hari jelas tidak baik untuk perkembangan sang anak. Anak jadi sulit belajar mengembangkan komunikasi yang nyaman dan penuh cinta. Bahkan sangat mungkin situasi yang tidak kondusif ini mendorong anak tumbuh ke arah negatif. Misalnya, ikut berkata dan bertindak kasar, kurang berempati, tidak percaya diri, dsb.
Langkah Terbaik
Pisah tumah setelah bercerai merupakan langkah terbaik untuk mengantisipasi munculnya maslah-masalah lainnya, dan tidak mustahil relasi antara mantan pasangan suami istri bisa jadi lebih baik dan akan timbul rasa hormat dan keinginan untuk saling memaafkan.
Dengan pisah rumah bisa untuk meredam emosi masing-masing, bukan tidak mungkin akan menyadari bahwa sebenarnya mereka masih saling sayang dan membutuhkan. Kesadaran ini akan menjadi dasar yang baik bila suatu saat ingin rujuk kembali.
Namun di sisi lain, terdapat beberapa faktor yang tidak memungkinkan untuk pisah rumah. Misalnya karena faktor ekonomi dimana salah satu pasangan tidak punya pilihan lain selain tetap hidup serumah dengan mantan pasangan, atau juga karena faktor anak yang tidak mau hidup terpisah dari kedua orang tuanya.
Tips Ideal Untuk Antisipasi Dampak Negatif yang muncul
1. Tentukan beberapa hari atau beberapa minggu saja sesuai kesepakatan bersama, hal ini
bertujuan memberikan kesempatan kepada anak agar lebih mudah menjalani masa-masa
transisi proses perceraian kedua orang tuanya
2. Buatlah kesepakatan untuk tidak tidur satu kamar, atau juga hal-hal lainnya terkait
penyebab munculnya nafsu syahwat untuk menghindari perzinahan
3. Buatlah kesepakatan untuk tidak bertengkar atau kontak fisik maupun verbal, terutama
di depan anak-anak.
4. Buatlah kesepakatan untuk tidak menghadirkan atau memperkenalkan calon pengganti
pasangan di rumah untuk menghindari konflik yang lebih besar lagi.
5. Jika hak pengasuhan anak jatuh ke tangan ibu, beritahukan pula kalau nanti sang anak
serumah lagi dengan ayah. Jika sulit menjelaskan ke anak bila perlu minta bantuan
psikolog .
6. Persiapkan mental anak untuk menghadapi perubahan besar dalam hidup mereka.
Berikan penjelasan sederhana kepada anak tentang apa yang terjadi.
7. Orang tua perlu menyampaikan keputusan ini secara bersama-sama, dan mengatakan
cerita yang sama. Anak perlu mendengar langsung dari kedua orang tuanya tanpa
saling menjatuhkan atau menjelekan satu sama lainnya.
8. Orang tua harus menekankan pada anak, bahwa perpisahan ini bukan karena anak.
Kadang kala anak berpikir orangtuanya berpisah karena kesalahan yang mereka lakukan
9. Anak perlu mendengar dari kedua orang tuanya, bahwa kedua orang tuanya berpisah,
namun tidak berpisah dari anak. Orang tua perlu meyakinkan , bahwa meskipun salah
satu orang tua tidak bersama anak seperti seblumnya, namun ia akan tetap
memperhatikan anak.
10.Sampaikan kepada anak bahwa kedua orang tua menyayanginya mereka, dan mereka
akan tetap disayang. Berita perceraian membuat anak merasa sendirian dan takut.
Ekspresikan kasih sayang dalam pelukan, belaian, dan ciuman untuk menghilangkan
rasa takutnya anak.
Dampak Menikahi Non Muslim
Allah SWT berfirman :
" Dan janganlah kamu menikahkan orang-oarng musyrik (dengan wanita-wanita mu'min) sebelum mereka beriman." (QS. Al Baqarah : 221)
Berdasarkan fiman Allah tersebut dampak yang diakibatkan pernikahan dengan non muslim :
1. Tidak akan tercapai tujuan perkawinan, karena setiap perkawinan pasti bertujuan untuk
mencapai kebahagiaan, kedamaian, keberkahan, mendapatkan ketenangan batin yang
dalam Al-Qur'an disebut dengan istilah sakinah, yang kesemuanya ini tidak bisa
didapatkan karena setiap hari akan disuguhkan pemandangan ritual agama yang berbeda
dengannya, mau tidak mau dia harus toleran terhadap hal itu, dan terkadang toleran
tersebut kebablasan, tanpa terasa sedikit demi sedikit pemandangan itu akan
mempengaruhinya dalam tingkah lakunya atau bahkan dalam aqidahnya itu sendiri,
na'udzu billahi min dzalik
2. Anak hasil perkawinan tersebut akan dilandan kebingungan yang dahsyat terutama
masalah ketuhanan, karena danya perbedaan agama antar kedua orang tuanya, jika
si anak memilih Islam sebagai agamnya, dia tidak akan mendapatkan pendidikan
Islam dengan baik, bahkan akidahnya akan teracuni dengan adanya kontradiksi yang
ia lihat setiap harinya.
3. Terputusnya hak waris, baik antara suami dan istri atau orang tua dan anak, sebagaimana
sabda Nabi SAW,
"Orang muslim tidak mewariskan (hartanya) ke orang kafir, (demikian juga) orang kafir
tidak mewariskan ke orang muslim . " (HR. Bukhori 6764).
4. Hilangnya hak perwalian, sebagaimana telah dinukil oleh Ibnu Taimiyah bahwa para
Sahabat telah berijma' tentang hilangnya hak perwalian jika dia kafir.
5. Putusnya nasab, karena wanita muslimah haram hukumnya menikah dengan non muslim,
maka pernikahan tersebut tidak sah dan anak hasil pernikahan tersebut sama dengan anak
hasil zina yang nasabnya tidak bisa disandarkan ke bapaknya.
6. Sang ayah tidak bisa menjadi wali dalam pernikahan untuk anak perempuannya, para
Ulama telah sepakat perihal ini.
Kesimpulan
Ketika syari' at melarang pernikahan beda agama maka pastilah kalau dilanggar tidak akan tercapainya tujuan pernikahan yang didambakan, jika menjelang atau di awal pernikahan terasa indah, itu hanyalah fatamorgana belaka, dari luar terlihat ada kebahagiaan tapi dari dalam batinnya adzab yang dia terima, semua yang dilarang oleh syari'at pastilah ada bencana di sana kalau kita langgar.
" Dan janganlah kamu menikahkan orang-oarng musyrik (dengan wanita-wanita mu'min) sebelum mereka beriman." (QS. Al Baqarah : 221)
Berdasarkan fiman Allah tersebut dampak yang diakibatkan pernikahan dengan non muslim :
1. Tidak akan tercapai tujuan perkawinan, karena setiap perkawinan pasti bertujuan untuk
mencapai kebahagiaan, kedamaian, keberkahan, mendapatkan ketenangan batin yang
dalam Al-Qur'an disebut dengan istilah sakinah, yang kesemuanya ini tidak bisa
didapatkan karena setiap hari akan disuguhkan pemandangan ritual agama yang berbeda
dengannya, mau tidak mau dia harus toleran terhadap hal itu, dan terkadang toleran
tersebut kebablasan, tanpa terasa sedikit demi sedikit pemandangan itu akan
mempengaruhinya dalam tingkah lakunya atau bahkan dalam aqidahnya itu sendiri,
na'udzu billahi min dzalik
2. Anak hasil perkawinan tersebut akan dilandan kebingungan yang dahsyat terutama
masalah ketuhanan, karena danya perbedaan agama antar kedua orang tuanya, jika
si anak memilih Islam sebagai agamnya, dia tidak akan mendapatkan pendidikan
Islam dengan baik, bahkan akidahnya akan teracuni dengan adanya kontradiksi yang
ia lihat setiap harinya.
3. Terputusnya hak waris, baik antara suami dan istri atau orang tua dan anak, sebagaimana
sabda Nabi SAW,
"Orang muslim tidak mewariskan (hartanya) ke orang kafir, (demikian juga) orang kafir
tidak mewariskan ke orang muslim . " (HR. Bukhori 6764).
4. Hilangnya hak perwalian, sebagaimana telah dinukil oleh Ibnu Taimiyah bahwa para
Sahabat telah berijma' tentang hilangnya hak perwalian jika dia kafir.
5. Putusnya nasab, karena wanita muslimah haram hukumnya menikah dengan non muslim,
maka pernikahan tersebut tidak sah dan anak hasil pernikahan tersebut sama dengan anak
hasil zina yang nasabnya tidak bisa disandarkan ke bapaknya.
6. Sang ayah tidak bisa menjadi wali dalam pernikahan untuk anak perempuannya, para
Ulama telah sepakat perihal ini.
Kesimpulan
Ketika syari' at melarang pernikahan beda agama maka pastilah kalau dilanggar tidak akan tercapainya tujuan pernikahan yang didambakan, jika menjelang atau di awal pernikahan terasa indah, itu hanyalah fatamorgana belaka, dari luar terlihat ada kebahagiaan tapi dari dalam batinnya adzab yang dia terima, semua yang dilarang oleh syari'at pastilah ada bencana di sana kalau kita langgar.
Selasa, 29 November 2016
Tips Bila Satu Rumah Dengan Mertua
Banyak pasangan yang memilih hidup seatap dengan mertua
dengan berbagai alasan, seperti factor keuangan, anak, kondisi kesehatan
mertua, dsb. Apapunalasannnya tinggal serumah dengan mertua bukanlah hal yang
mudah. Tidak sedikit masalah yang membutuhkan pengertian, adaptasi dan
kesabaran dari semua pihak.
Berikut tips tinggal dengan mertua :
1. Tentukan Batasan
Ada baiknya membicarakan batasan yg perlu dilakukan,
misalnya pekerjaan rumah apa saja
yang akan menjadi tanggung jawab anda selama
hidup bersama agar tidak terbebani
satu sama lain
2. Hindari Perdebatan Keluarga
Tinggal bersama mertua tdk menutup kemungkinan pasangan
anda bersikap seperti
anak-anak lagi. Pasangan mungkin saja mersa kesal atau
terjebak dalam situasi yg bisa
menyebabkan dia bertengkar dengan orang tuanya.
Jika pasangan mulai terlibat dalam
pertengkaran keluarga, pergilah ke dalam
kamar utk meminimalis resiko
3. Cari Privasi
Satu hal yg dibutuhkan oleh pasangan menikah, terutama
pengantin baru adalah privasi,
hal ini mungkin akan sedikit sulit dilakukan
jika tinggal satu rumah dengan mertua. Oleh
karena itu, sangat penting bagi
Anda dan pasangan untuk menentukan area privasi dan
meminta agar mertua
menghargai dan memahami itu.
4. Kenali Kebiasaan
Misalnya, mertua biasa bangun jam berapa, sarapannya
apa. Ini penting supaya tidak ada
benturan antara kebiasaan anda dan kebiasaan
mereka. Ada baiknya menanyakan pada
pasangan atau langsung pada mertua dengan
obrolan santai.
5. Pilih Hal Yang Perlu
Diperdebatkan
Selain harus menghindari pertengkaran antara pasangan
dengan orang tuanya. Anda juga
sebaiknya tidak terlibat dalam perdebatan dengan
mertua. Tak jarang mertua memberikan
komentar atau melakukan sesuatu hal yang
mengganggu, dan Anda boleh memberitahunya
jika merasa hal tersebut sudah di
luar batas kewajaran. Misalnya mertua sering masuk ke
kamar anda tanpa
memberitahu terlebih dahulu, sebaiknya beritahu dia agar mau
mengetuk pintu.
6. Buang Prasangka Buruk
Perasaan takut kalau tinggal bareng mertua biasanya
dialami kaum perempuan. Hilangkan
perasaan yang demikian, jangan jadikan figure
mertua sebagai sesosok monster yang
menakutkan. Insya Allah mertua Anda orang
baik, siap menerima anda apa adanya, dan
tunjukkan diri anda orang yang terbuka
dan berbakti kepada orang tua.
7. Memahami perasaan pasangan
Jika anda dicurhati oleh pasangan, maka anda harus
santai dan bersikap menyenangkan.
Pahamilah bahwa tdk mudah bagi pasangan anda
utk beradptasi dengan keluarga anda. Jadi
berempatilah kepadanya dengan
menunjukkan dukungan kepadanya. Kalaupun ia salah,
luruskanlah dengan cara yang
manis.
8. Mintalah bantuan jika
membutuhkannya
Tinggal serumah dengan mertua dan saudara ipar bisa
memberikan tekanan bagi siapa saja.
Jika situasi menjadi tegang dan selalu ada
argument setiap hari, maka tidak ada salahnya
untuk menemui terapis atau
konselor pernikahan. PIhak ketiga yg objektif mungkin bisa
membantu mengatasi
hal ini dan mengurangi stress anda.
9. Siap Berbagi
Misal : membiarkan pasta gigi, sabun mandi, sabun cuci
dipakai bersama-sama. Begitu pula
kalau habis, segeralah membelinya utk
menunjukkan jati diri anda sebagai menanu yang
berbakti kepada mertua, karena
mertua adalah seperti orang tua anda sendiri.
10. Menjaga Hubungan dengan Saudara Ipar
Rasullulah pernah ditanya tentang saudara ipar, maka
beliau menjawab bahwa hal itu
adalah “maut” (berbahaya). Meski sudah memiliki
ipar,namun hubungan anda dengannya
adalah mahram karena pernikahan. Artinya
ada kemungkinan anda bisa menikah dengannya
seandainya terjadi perceraian
dengan pasangan anda. Jadi tetaplah santun kepadanya,
berpakaian islami, tdk
berkhalawat dengannya, apalagi bercanda yang berlebihan.
11. Curhat kepada pasangan jika ada masalah
Ada saja gesekan-gesekan antara anda dengan mertua,
sengaja ataupun tidak sengaja.
Karena itu, perlu dicari jalan keluarnya dengan
curhat pada pasangan dengan penyampaian
yang baik, bukan utk menjatuhkan citra
orang lain, melainkan utk mencari solusi
12. Hormati yang tua, sayangi yang muda
Ini adalah salah satu pesan dari Rasullulah kepada
umatnya. Mengingat penghuni rumah
beragam, mulai dari mertua, adik ipar, kakak
ipar, dsb. Oleh karena itu, jagalah baik-baik
pesan ini, menuju predikat menantu
idaman.
13. Bersabar
Kalau anda
ditegur mertua harus banyak bersabar. Anggaplah itu sebagai pembelajaran.
Kalaupun ada kekurangan mertua, terimalah sebagai manusia, karena mertua juga
manusia.
Memilih Jodoh yang Tepat
Sahabat
muslim , urusan Jodoh itu ditangan Allah, nah lalu bagaimana cara mengenali
jodoh dalam islam. Tips ini berguna bagi anda yang sedang mencari jodoh . Tanda
jodoh dalam Islam itu adalah 3 M.
Apa itu?
Siapa yang paling bisa memaklumi, memaafkan dan memberi. Insya Allah dia jodoh
anda. Jadi kalau mau mencari jodoh, carilah yang bisa melakukan memaklumi,
memaafkan dan ingin selalu memberi supaya hubungan cinta dapat langgeng dan
tidak rapuh. Jadi jodoh itu tidaklah didasarkan nafsu duniawi, ganteng, kaya
namun lihatlah kokoh aqidahnya, rajin ibadah dan indah akhlaknya.
Sahabat
muslim , Kebahagiaan didalam hidup ini kita bersama jodoh kita bisa mengarungi
bahtera kehidupan dalam menghadapi badai & gelombang kehidupan. Komunikasi,
saling menyesuaikan diri dengan pasangan, pengorbanan, ingin selalu memberi,
memaklumi & memaafkan hanya akan hadir bila di dalam hati kita ada keimanan
pada Allah maka Allah melimpahkan keindahan dalam hidup kita bersama orang yang
kita cintai.
“Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan
kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekuarngan harta, jiwa dan
buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang2 yang sabar, yaitu
orang2 yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan, 'Inna lillahii wa innaa
ilaihi raajiuun' (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami
kembali). Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurnah & rahmat
dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang2 yang mendapatkan petunjuk.'
(QS. al-Baqarah : 155-157).
Kamis, 24 November 2016
Persiapan Muslim Sebelum Menikah
MENIKAH adalah ibadah. Ibadah tidaklah bisa dilakukan
dengan sembarangan, harus seuai dengan syariah islamiah (ilmu) seperti yang
diperintahkan oleh Alloh SWT. oleh karenanya sangat dianjurkan bagi seorang
Muslim yang hendak melaksanakan pernikahan, untuk mengenal dan menggali ilmu
tentang tata cara pernikahan yang syar’i, adab-adab dan fadhilah-fadhilah nikah
sebagai persiapan spiritual pra nikah.
Muslimah tentu ingin memiliki imam yang baik bukan?
Kuncinya adalah apabila seseorang telah berusaha memperbaiki diri, maka Alloh
SWT akan memasangkannya dengan pasangan yang baik pula. Alloh SWT berfirman:
"….Dan
wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang
baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…" ( QS. an-Nur
[24]: 26 )
Berikut adalah Persiapan Muslim/Muslimah Sebelum Menikah :
1. Niat
yang ikhlas karena Alloh SWT dalam melaksanakan pernikahan, karena segala amal
ibadah bergantung
pada niat yang tulus hanya kepada Alloh SWT.
2. Lebih
giat dan rajin membaca, menelaah dan memahami seluk beluk pernikahan mulai dari
ta’aruf sampai
pernikahan dan hidup berkeluarga yang sesuai dengan syari’at
yang Alloh tetapkan melalui sunnah
Rosul-Nya.
3. Berusaha
memperbaiki akhlak dengan banyak membaca buku tentang akhlak, serta berusaha
mengamalkannya, karena Alloh akan memberatkan timbangan seorang Mukmin yang
berakhlak.
Rosululloh bersabda:
"Sesuatu
yang paling berat dalam timbangan seorang Mukmin adalah akhlak yang baik. Alloh
murka kepada
orang yang bertutur keji dan jorok". (HR. al-Baihaqi )
4. Membiasakan
diri mengamalkan hal-hal yang sunnah, agar terbiasa membina keluarga yang penuh
dengan
amalan-amalan sunnah seperti, bersiwak, berdzikir di waktu pagi dan
petang, melaksanakan sholat-sholat
sunnah seperti, tahajjud, rowatib, dan lain
sebagainya.
5. Berusaha
dan berantusias untuk menuntut ilmu, memiliki suatu metode ilmiah yang sesuai
dengan
kemampuan, meneladani para sahabat dalam menuntut ilmu dan
mengamalkannya, karena menuntut ilmu
merupakan suatu ibadah untuk mendekatkan
diri kepada Alloh di samping suatu keharusan yang
disyari’atkan dan bukan
pekerjaan sambilan. Karena hanya dengan ilmulah yang membedakan seseorang
dengan yang lainnya. Alloh berfirman :
"Katakanlah:
“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?"
( QS. az-Zumar [39]: 9 )
6. Berusaha
melengkapi perpustakaan pribadi dengan buku-buku syar’i seperti, buku tafsir,
hadits dan
buku-buku lainnya, sebagai rujukan agar hidup dalam berkeluarga
lebih terarah dengan syari’at Islam
yang benar.
Demikianlah persiapan-persiapan yang perlu di lengkapi
untuk menjalani kehidupan berkeluarga yang sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan
as-Sunnah. Selamat menempuh hidup baru bagi muslimah yang segera melangkah ke
dalam ibadah menikah.
Dalam buku "Baarakallaahu laka" Karya Salim A.
Fillah disebutkan, secara umum ada 5 hal yang harus dipersiapkan untuk
menghadapi pernikahan :
1. Persiapan
Ruhiyah (spiritual)
Ini meliputi kesiapan mental, kesiapan untuk bertanggung
jawab, berbagi, dan berlapang dada. Juga
kesiapan untuk bisa sabar dan syukur
dalam menghadapi semua masalah.
2. Persiapan
'Ilmiyah (Ilmu/Intelektual)
Ini juga sangat penting, ketika pernikahan berlangsung
ada beberapa "Fiqih" yang harus dipelajari.
Seperti rukun &
syarat sah ijab qibul, dll. Juga Ilmu komunikasi dengan pasangan, ilmu ekonomi
untuk
mencari nafkah, dsb.
3 Persiapan
Jasadiyah (Fisik)
Gak lucu kan kalo malam pertama ternyata pengantin pria
banyak panunya..ataupun kondisi fisik lagi drop,
oleh karena itu persiapan
fisik ini harus diperhatikan sebelum melangsungkan pernikahan. Apalagi dari
penyakit-penyakit yang cukup berbahaya bagi kesehatan reproduksi.
4. Persiapan
Maadiyah (Materi)
Setidaknya untuk mas kawin atau yang lainya Tapi perlu
juga persiapkan tabungan untuk modal agar
cepat mandiri.
5. Persiapan
Ijtima'iyyah (Sosial)
Maksudnya, siap untuk bertetangga, siap bagaimana hidup
rukun bermasyarakat, dll. Tak kalah pentingnya
juga harus ada visi dan misi
dakwah di lingkungan masyarakat.
"ROBBANAA HABLANAA MIN AZWAAJINAA WADZURRIYYAATINAA
QURROTA A'YUN WAJ ‘ALNAA LIL MUTTAQIINA IMAAMAA".
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami
istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan
jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa". (Q.S. 25 : 74)
BILA KEMESRAAN MULAI PUDAR
Kemesraan , kelihatannya sepele, namun faktor ini adalah
salah satu bagian penting guna menjaga keharmonisan sebuah rumah tangga. Banyak
keluarga yg merasa kehilangan “harta” ini ketika usia pernikahan sudah di atas
belasan tahun, atau alas an usia. HUbungan suami istri (meski rutin dilakukan)
hanya akan menunai kejenuhan jika tidak dibarengi dengan suasana yang mesra dan
romatis.
Bermesraan adalah upaya suami istri utk menunjukkan
saling kasih sayang dalam bentuk lisan maupun bahasa isyarat. Ucapan yang
manis, kata-kata yang manja, dan ajakan yg lembut, adalah bentuk kemesraan
lisan yg bisa dilakukan pasangan suami istri. Sedang sentuhan tangan dan gerak
tubuh lainnya adalah kemesraan dalam bentuk bahasa isyarat, namun kemesraan
secara lisan saja belum cukup tanpa disertai kemesraan dengan bahasa isyarat.
Untuk menunjukkan bahwa pasangan suami istri yg sudah
mengarungi bahtera rumah tangga lebih dari 20 tahun masih bisa menjalin
kemesraan dan keromatisan, Rasulullah SAW telah member isyarat yg patut
dicontoh bagi pasangan yg tidak muda lagi.
PANGGILAN MESRA
Jika
biasanya seorang suami memanggil istri atau sebaliknya dengan panggilan nama
biasa ( tanpa kata sandang dik, atau yang lainnya), mulailah memanggil dengan
panggilan yang anggun dan romantic. Rasul SAW biasa memanggil ‘Aisyah
dengan beberapa nama panggilan yang disukainya, seperti ‘AIsyah dengan
sebutan Khumairo (pipi merah delima). Begitu indahnya Rasul SAW memanggil
dengan kata-kata mesra kepada para istrinya. Hal ini mengisyrakatkan betapa
pentingnya komunikasi, karena bahasa tubuh akan lebih efektif menyatakan cinta
dan kasih sayang antara suami dan istri.
BERHIAS BERSAMA
Buatlah
suasana rumah tangga seperti ketika masih pengantin baru. Misalnya dengan
melayani suami atau istri dalam berhias dengan perasaan yang tulus dan mesra.
Misalnya menyisir rambut suami atau istri seperti yang pernah dilakukan para
istri Rasul SAW terhadap beliau. Dari ‘Aisyah, ia berkata,” Saya biasa menyisir
rambut Rasulullah SAW, saat itu saya sedang haidh.” (Riwayat Ahmad). Atau
member parfum ke tubuh suami atau sebaliknya. ‘Aisyah berkata,” Sesungguhnya
Nabi SAW apabila meminyaki badannya , beliau memulai dari auratnya dan
mengolesinya dengan nurah (sejenis bubuk pewangi), dan istrinya meminyaki
bagian lain seluruh tubuhnya,” (HR Ibnu Majah).
TAK MEMBEDAKAN MESKI SEDANG HAID
Hal ini sering ditemui, ketika isteri sedang haid suami bersikap beda ( agak
menjaga jarak). Sikap-sikap seperti ini hendaknya dijauhi karena banyak anjuran
Rasul yg selalu dekat dan mesra meski isterinya sedang haid.
“Ketika beliau sedang berada dalam satu selimut dengan ‘Aisyah, tiba-tiba
‘Aisyah bangkit. Beliau kemudian bertanya,” Mengapa engkau bangkit?” Jawabnya,
“ Karena saya haidh, wahai Rasulullah,” Sabdanya,”Kalau begitu pergilah, lalu
berkainlah dan dekatlah kembali kepadaku,” Aku pun masuk, lalu berselimut
bersama beliau,” ( Riwayat Sa’id bin Manshur).
Dari ‘Aisyah, ia berkata,” Saya biasa minum dari muk (gelas) yg sama ketika
haidh, lalu Nabi SAW mengambil muk tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat
saya meletakkan mulut saya, lalu beliau minum, kemudian saya menghirup isinya,
kemudian beliau mengambilnya dari saya, lalu beliau meletakkan mulutnya pada
tempat saya meletakkan mulut saya,lalu beliau menghirupnya,” (HR. Nasai)
MANDI BERSAMA
Tak hanya menyegarkan badan saja. Mandi bersama juga
salah satu cara yang ampuh utk mengeratkan kembali hubungan suami istri,
membangun kembali benang-benang kemesraan yg telah kusut serta menjaga
keharmonisan yang sempat hilang.
Di sisi lain, suami istri yang mandi di tempat yg sama
dan keduanya saling beperlukan, baik di bawah pancuran ataupun di dalam
bak mandi akan menambah kecintaan dan kasih sayang . Istri akan mearsa tenang,
tentram, dan mengerti bahwa seorang istri bukan hanya tempat utk menyalurkan
naluri seksual saja. Melainkan dia juga seorang wanita yang begitu terhormat
dan memiliki kedudukan pada diri suaminya. Begitu pula seorang suami akan
merasakan kesenangan yang memuncak dan perasaan yang begitu menggebu tatkala
dia mampu menggembirakan istrinya dan memeluknya di saat mandi.
Suami atau istri saat mandi bersama dapat kegembiraan di sela-sela mandi
sehingga dapat memperkuat ikatan di antara keduanya, serta dapat menambah
kelembutan dan kasih sayang. Khususnya jika terjadi gurauan ringan dan pemainan
yang menyenangkan di sela-sela mandi, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi SAW
bersama ‘Aisyah, diantaranya :
Aisyah berkata : “Aku mandi bersama Rasulullah SAW dalam satu bejana, dalam
satu wadah, tangan kami saling bergantian (mengambil air). Dan Aisyah menunjuk
pada bejana yg berada di dalam rumah seukuran enam qisth. Aku
mendahuluinya dan dia mendahului (mengambil wadah) sampai-sampai dia berkata
“Tinggalkan untukku. Dan aku berkata”Tinggalkan untukku, tinggalkan untukku,
sisakan untukku, sisakan untukku (beliau menciduk sebelum Aisyah, dan Aisyah
menciduk sebelum beliau).”(HR Nasai Ahmad).
MALU DAN CANGGUNG
Bagi wanita yang sangat kaku, keras , sangat pemalu, sehingga enggan
untuk mandi dengan alas an karena telanjang dan menyangka bahwa perbuatan ini
hukumnya haram atau makruh, atau aib, yang tak layak dilakukan adalah contoh
sikap-sikap seorang istri yg tidak bisa menempatkan pada tempatnya. Aisyah dan
Ummu Salamah menolak pemikiran yang terbelakang ini. Dan keduanya menjawab
bahwa keduanya pernah mandi bersama Nabi dari satu bejana.
Imam Malik bin Anas dan Asbagh bin Faraj berkata,” Seorang laki-laki
diperbolehkan melihat kemaluan istrinya,” (dinukil An-Nawadirwa Az-ziyadat dan
kitab lainnya).
Dalam hal ini, hujjah Imam Malik adalah bahwa Nabi SAW mandi bersama
Aisyah dalam satu bejana, keduanya menciduk air darinya bersama-sama, dan
keduanya saling melihat satu sama lain.
Nah, masih kurang apalagi bentuk kemesraan yang telah dicontohkan oleh Nabi SAW
bila suatu pasangan sudah mulai dilanda kejenuhan? Dan sudahkah kita
bermusahabah (bercermin) utk melihat apa yang telah kita lakukan utk
suami-isteri kita tercinta guna menjaga kemesraan ini ?
Senin, 21 November 2016
Kiat Menjadikan Rumahku Surgaku-Baiti Jannati
Rumah adalah suatu bangunan yang digunakan sebagai
sarana untuk berlindung, berteduh dari segala sesuatu yang akan mengancam
kehidupan manusia. Karena itu rumah dibangun sesuai dengan perkembangan
peradaban manusia. Rumah juga menjadi simbol kebanggaan, kemegahan,
kesejahteraan, bahkan kekuatan. Karena itu di dalam rumah juga dilengkapi
sarana-sarana pendukung. Didalam rumah dibuat kamar-kamar, ada kamar tidur,
kamar mandi, ruang tamu, ruang belajar, tempat shalat, ruang keluarga, ruang
dapur, garasi, gudang dan lainnya.
Megah atau tidaknya suatu rumah tidak menjadi jaminan anggota keluarganya betah tinggal dirumah. Banyak terjadi kasus ketika suami istri berangkat kerja, anak-anak diasuh oleh para pembantu dan tv, akhirnya komunikasi orang tua dengan anak semakin jauh, berangkat dari hal ini anak-anaknya berkembang sesuai dengan pergaulannya. Pengaruh teman sangat dominan, sehingga tidak terjadi keharmonisan dalam keluarga. Demikian pula banyak terjadi suami bermain selingkuh dengan pembantunya, atau seorang istri juga mempunyai pria idaman lain. Dengan demikian hubungan mereka menjadi kaku, komunikasi yang dibangun hanya bersifat lahiriyah, adapun hatinya berpaling pada orang lain.
Ada lagi rumah tangga yang salah satu anggota keluarganya bekerja dan yang lain tinggal dirumah, katakan saja misalnya suami yang bekerja dan istri yang berada di rumah. Ternyata setiap kali suami pulang kerja di rumah tidak ada makanan, bahkan kadang istri sedang ngrumpi dengan tetangganya.
Dengan demikian rasa letih dan capek yang seharusnya mendapat sambutan ternyata tidak ada yang menyambut. Maka jadilah percekcokan. Satu sama lain sama-sama egoisnya mempertahankan pendapatnya dengan mengumbar nafsu. Demikian pula dalam keluarga yang selalu memandang harta kekayaan masih kurang bila dibandingkan dengan yang lain, sehingga muncul keinginan untuk mencukupi kebutuhaanya dengan cara-cara yang tidak wajar, misalnya mencari pinjaman dengan melebihi dari panghasilan yang diperoleh tiap bulannya, atau yang lebih parah lagi melakukan kegiatan tindak penipuan, perampokan, bahkan mengedarkan uang palsu atau menjadi Bandar Narkoba. Bahagiakah keluarga yang dibangun dengan cara yang demikian ini?
Ada suatu kisah keluarga besar di masyarakat pedesaan, antara keluarga terjalin komunikasi yang baik, dengan tetangga saling menolong, saling menghurmati, bahkan pendidikan anak berlangsung secara alami. Rumah mereka dari bangunan yang sederhana, beratapkan rumbia, berdindingkan dari bambo, tidak memakai eternity, rumah mereka hanya dipisahkan kamar tidur yang merupakan tempat privasi suami istri. Sekalipun penghasilannya pas-pasan, makan dan minum hanya sekedarnya saja, bahkan makanan hanya sekedar untuk menegakkan punggung namun kehidupannya nampak bahagia.
Pada zaman Rasulullah SAW pernah ada seorang wanita tua yang bernama Ibu Muti’ah. Suatu saat Rasulullah SAW memerintahkan kepada putrinya Siti Fatimah, bila ingin menjadi wanita yang mulia belajarlah kepada Muti’ah, dia tinggal dikampung yang cukup jauh. Segeralah Siti Fatimah berangkat dengan ditemani putranya Hasan, setelah berjalan cukup jauh sampailah pada rumah yang dimaksud, lalu dia mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Setelah disambut, dipersilahkan Fatimah untuk masuk ke dalam rumah, dan Hasan disuruh untuk tetap tinggal diluar, karena didalam rumah tidak ada orang laki-laki.
Setelah dipersilahkan duduk, Fatimah menengok sisi kanan, kiri, atas bawah. Dalam hati berkata, apa kelebihan wanita ini hingga ayahandanya menyuruh berguru kepadanya. Dilihatnya di pojok ruangan terdapat baskom berisi air, lalu kain lap dan cemeti. Fatimah bertanya, untuk apakah benda-benda tersebut. lalu dijelaskan bahwa ketika suaminya pulang kerja, suaminya lalu disambut, karena melihat nampak kusut, maka dibilaslah muka, tubuh, tangan dan kakinya. Setelah itu di lap dengan kain yang telah tersedia. Kemudian suaminya beristirahat sejenak sambil menyantap hidangan yang telah disediakan oleh istrinya. Setelah itu suaminya mandi dan menegakkan shalat. Setelah selesai sambil duduk dan hilang rasa capeknya, saya ambilkan cemeti untuk suami sambil saya berkata. Wahai kanda, jika pelayanan saya kepadamu masih kurang saya mohon, kanda untuk menyambuk saya sebagai tebusan atas kelalaian saya.
Siti Fatimah terkejut lalu bertanya lagi, bagaimanakah sikap suamimu? Dia menerima cemeti lalu diletakkan di sebelah tempat duduknya, dan dia menarik tanganku lalu memelukku dengan penuh kasih sayang. Dari kejadian tersebut barulah Siti Fatimah mengetahui, mengapa rasul memerintahkan untuk belajar kepada Ibu Muti’ah.
Karena itu bersyukur bila kita diberikan kemampuan untuk membangun rumah sesuai dengan perkembangan zaman, dan wujud syukurnya hendaknya keindahan dan kemegahan rumah diimbangi dengan keikhlasan dalam menegakkan syariat Allah, dan semangatnya didalam malaksanakan amar makruf nahi munkar. Keluarga merupakan bangunan suatu negara yang paling kecil, agar banguan tersebut tetap menjadi keluarga idaman, rumah yang mendatangkan kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan penghuninya dapat melakukan kiat-kiat sebagai berikut:
1. Menjaga dan melaksanakan hak dan kewajiban setiap anggota keluarga.
Megah atau tidaknya suatu rumah tidak menjadi jaminan anggota keluarganya betah tinggal dirumah. Banyak terjadi kasus ketika suami istri berangkat kerja, anak-anak diasuh oleh para pembantu dan tv, akhirnya komunikasi orang tua dengan anak semakin jauh, berangkat dari hal ini anak-anaknya berkembang sesuai dengan pergaulannya. Pengaruh teman sangat dominan, sehingga tidak terjadi keharmonisan dalam keluarga. Demikian pula banyak terjadi suami bermain selingkuh dengan pembantunya, atau seorang istri juga mempunyai pria idaman lain. Dengan demikian hubungan mereka menjadi kaku, komunikasi yang dibangun hanya bersifat lahiriyah, adapun hatinya berpaling pada orang lain.
Ada lagi rumah tangga yang salah satu anggota keluarganya bekerja dan yang lain tinggal dirumah, katakan saja misalnya suami yang bekerja dan istri yang berada di rumah. Ternyata setiap kali suami pulang kerja di rumah tidak ada makanan, bahkan kadang istri sedang ngrumpi dengan tetangganya.
Dengan demikian rasa letih dan capek yang seharusnya mendapat sambutan ternyata tidak ada yang menyambut. Maka jadilah percekcokan. Satu sama lain sama-sama egoisnya mempertahankan pendapatnya dengan mengumbar nafsu. Demikian pula dalam keluarga yang selalu memandang harta kekayaan masih kurang bila dibandingkan dengan yang lain, sehingga muncul keinginan untuk mencukupi kebutuhaanya dengan cara-cara yang tidak wajar, misalnya mencari pinjaman dengan melebihi dari panghasilan yang diperoleh tiap bulannya, atau yang lebih parah lagi melakukan kegiatan tindak penipuan, perampokan, bahkan mengedarkan uang palsu atau menjadi Bandar Narkoba. Bahagiakah keluarga yang dibangun dengan cara yang demikian ini?
Ada suatu kisah keluarga besar di masyarakat pedesaan, antara keluarga terjalin komunikasi yang baik, dengan tetangga saling menolong, saling menghurmati, bahkan pendidikan anak berlangsung secara alami. Rumah mereka dari bangunan yang sederhana, beratapkan rumbia, berdindingkan dari bambo, tidak memakai eternity, rumah mereka hanya dipisahkan kamar tidur yang merupakan tempat privasi suami istri. Sekalipun penghasilannya pas-pasan, makan dan minum hanya sekedarnya saja, bahkan makanan hanya sekedar untuk menegakkan punggung namun kehidupannya nampak bahagia.
Pada zaman Rasulullah SAW pernah ada seorang wanita tua yang bernama Ibu Muti’ah. Suatu saat Rasulullah SAW memerintahkan kepada putrinya Siti Fatimah, bila ingin menjadi wanita yang mulia belajarlah kepada Muti’ah, dia tinggal dikampung yang cukup jauh. Segeralah Siti Fatimah berangkat dengan ditemani putranya Hasan, setelah berjalan cukup jauh sampailah pada rumah yang dimaksud, lalu dia mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Setelah disambut, dipersilahkan Fatimah untuk masuk ke dalam rumah, dan Hasan disuruh untuk tetap tinggal diluar, karena didalam rumah tidak ada orang laki-laki.
Setelah dipersilahkan duduk, Fatimah menengok sisi kanan, kiri, atas bawah. Dalam hati berkata, apa kelebihan wanita ini hingga ayahandanya menyuruh berguru kepadanya. Dilihatnya di pojok ruangan terdapat baskom berisi air, lalu kain lap dan cemeti. Fatimah bertanya, untuk apakah benda-benda tersebut. lalu dijelaskan bahwa ketika suaminya pulang kerja, suaminya lalu disambut, karena melihat nampak kusut, maka dibilaslah muka, tubuh, tangan dan kakinya. Setelah itu di lap dengan kain yang telah tersedia. Kemudian suaminya beristirahat sejenak sambil menyantap hidangan yang telah disediakan oleh istrinya. Setelah itu suaminya mandi dan menegakkan shalat. Setelah selesai sambil duduk dan hilang rasa capeknya, saya ambilkan cemeti untuk suami sambil saya berkata. Wahai kanda, jika pelayanan saya kepadamu masih kurang saya mohon, kanda untuk menyambuk saya sebagai tebusan atas kelalaian saya.
Siti Fatimah terkejut lalu bertanya lagi, bagaimanakah sikap suamimu? Dia menerima cemeti lalu diletakkan di sebelah tempat duduknya, dan dia menarik tanganku lalu memelukku dengan penuh kasih sayang. Dari kejadian tersebut barulah Siti Fatimah mengetahui, mengapa rasul memerintahkan untuk belajar kepada Ibu Muti’ah.
Karena itu bersyukur bila kita diberikan kemampuan untuk membangun rumah sesuai dengan perkembangan zaman, dan wujud syukurnya hendaknya keindahan dan kemegahan rumah diimbangi dengan keikhlasan dalam menegakkan syariat Allah, dan semangatnya didalam malaksanakan amar makruf nahi munkar. Keluarga merupakan bangunan suatu negara yang paling kecil, agar banguan tersebut tetap menjadi keluarga idaman, rumah yang mendatangkan kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan penghuninya dapat melakukan kiat-kiat sebagai berikut:
1. Menjaga dan melaksanakan hak dan kewajiban setiap anggota keluarga.
“…. dan para wanita mempunyai hak yang seimbang
dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf, akan tetapi para suami, mempunyai
satu tingkatan kelebihan daripada isterinya dan Allah Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana”.(QS. Al Baqarah: 228)
2. Saling menasehati di dalam melaksanakan kebenaran, kesabaran dan keikhlasan atas dasar kasih sayang dengan cara yang baik.
“ Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam
kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan
nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya
menetapi kesabaran. (QS. Al Ashr: 2-3)
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku
lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,
tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah
mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam
urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal
kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 159)
3. Seluruh anggota keluarga yang meliputi suami, istri anak-anak dan anggota yang lain saling berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mewujudkan surga dunia dan akhirat.
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan
kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk
orang-orang yang bertaqwa (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik
di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan
memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya
diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa
mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan
mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui.” (QS.
Ali Imran: 133-135)
4. Selalu bertolong-menolong dan bekerja sama dalam melelaksanakan kebajikan dan taqwa. Mereka akan senantiasa mengerjakan keburukan, permusuhan dan perbuatan dosa lainnya.
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran”. (QS. Al Maidah: 2)
Keluarga merupakan bangunan negara yang paling kecil, sehingga untuk mewujudkan bangunan rumah tangga yang kokoh tiada pilihan kecuali setiap anggota keluarga untuk menyibukkan diri pada hal-hal yang baik. Membiasakan diri melakukan yang baik untuk memberi dan menjadi teladhan dalam keluarga. Walaupun suami adalah merupakan kepala keluarga, namun bisa jadi akan mencontoh pada istri dan anak-anaknya dalam ketaatan kepada Allah. Sesungguhnya rapuhnya bangunan rumah tangga sering dipicu oleh pihak ketiga, yaitu syetan yang mengajak dan membisikkan hawa nafsunya sehingga melakukan hal-hal yang tidak baik. Ketika nilai-nilai kebaikan dalam keluarga senantiasa menjadi kebiasaan hidup niscaya bisikan hembusan nafsu syetan akan sirna. Namun karena syetan selalu menciptakan tipu muslihat maka setiap anggota keluarga agar mengaca pada orang-orang shalih. Lihatlah kepada orang yang lebih tinggi dalam hal kesalihannya niscaya akan menjadi hamba yang selalu istiqomah dalam menegakkan syari’at Allah.
Benarkah Pasangan Yang Baik Hanya Untuk Yang Baik ?
Umur bumi sudah sangat tua, banyak sudah cerita yang
tercipta, dan zaman menjadi saksi bisu perputaran waktu. Tapi kita tidak layak
untuk membisu, kita harus bisa mengambil hikmah dari semua kejadian yang telah
terjadi. Ada kisah para anbiya, ada kisah para shohabah yang penuh mahabbah,
ada kisah tentang kaum yang Allah selamatkan, ada pula kisah tentang kaum yang
Allah binasakan. Semua kisah itu bisa kita temukan di lembaran-lembaran
Al-Qur’an dan As sunnah.
Dan pagi hari ini Allah telah menggerakkan bapak saya
untuk bercerita sebuah kisah yang tidak ada di dalam Al-Qur’an dan As sunnah.
Karena yang bapak ceritakan adalah kisah nyata yang terjadi di zaman yang penuh
fitnah. Seperti sekarang wahai ikhwah…
Entah dari mana saya harus menceritakannya. Karena saya
memang bukan penulis ulung. Untuk berbicara pun biasanya belepotan. Namun saya
tidak bersedih. Karena kepandaian berpidato, kefasihan lidah, dan kelancaran
berbicara bukanlah syarat mutlak dalam berdakwah di jalan Allah. Kalimurrahman,
Musa AS ialah seorang nabi yang merasakan kakunya lidah dalam memberikan
penjelasan, dan beliau memohon kepada Allah dengan ucapannya; wahlul ‘uqdatan
min lisaaniy. Jadi, yang terpenting, gairah tebar dakwah dan hikmah selalu
merekah.
Oke, kembali ke topik.
Bermula saat tadi pagi saya sarapan berdua dengan
bapak. Momen santai seperti ini memang menjadi waktu paling pas, enak, dan
cocok untuk ‘transfer’. Transfer kumpulan huruf, transfer kumpulan kata,
transfer kumpulan kalimat, dan jadilah seporsi wejangan yang nikmat…
Tapi, dalam kesempatan ini saya urungkan niat untuk
bercerita secara detail. Mungkin, intisarinya saja.
Tadi bapak menceritakan seorang wanita yang bapak kenal
dan saya juga mengenalnya. Wanita itu berhijab. Bajunya longgar dan jilbabnya
lebar. Kostum itu ia kenakan sudah lama, sejak duduk di bangku kuliah. Sekarang
umurnya sudah kepala tiga. Dan wanita itu juga termasuk aktivis. Sampai
sekarang pun masih aktif duduk di halaqah. Wanita itu sudah menikah, dengan seorang
pria. Sudah lama. Mungkin kurang lebih 8 tahun silam. Nah, saya ingin bercerita
tentang malam-malam pertama pasutri tersebut.
Singkat cerita, kurang lebih 1 minggu setelah menikah.
Si suami komplain sama istrinya (wanita berhijab yang diceritakan bapak).
Suaminya komplain, karena menemukan sesuatu yang harusnya tidak ia temukan.
(apa ya sesuatu itu???).
Namun si wanita tidak mau menjawab, ia hanya menyuruh
suaminya untuk bertanya pada kakak iparnya (suami kakak perempuan si wanita).
Dan meluncurlah si suami ke rumah kakak ipar istrinya. Sesampainya di sana, ia
langsung menceritakan tentang sesuatu yang harusnya tidak ia temukan di
malam-malam pertama pernikahan.
Si suami bercerita bahwa ia dapati istrinya sudah tidak
perawan lagi! Kewanitaannya bersih tanpa selaput.
Maka sang kakak ipar menjelaskan. Ternyata, dahulu
ketika si wanita masih duduk di bangku SMA, ia mengidap penyakit keputihan.
Sudah parah. Dan kakak iparnya itulah yang mengantar untuk berobat. Dokter
pertama berkata bahwa penyakit keputihan separah ini tidak mungkin menimpa
kecuali kepada wanita yang sudah beberapa kali melakukan hubungan seksual.
Untuk yang sudah bersuami, minimal 3 bulan setelah menikah. Ketika itu, si
wanita tidak puas dengan jawaban sang dokter dan minta berobat ke dokter lain.
Sampai 3 dokter dikunjungi, semua mengutarakan jawaban yang tidak jauh berbeda…
Ternyata, pesan yang ingin bapak sampaikan adalah;
“wanita shalihah otomatis akan berbaju longgar dan berjilbab lebar. Karena itu
salah satu cirinya. Tapi hati-hati, jangan sampai tertipu oleh baju longgar
dan jilbab lebar,
karena itu bukan jaminan… meskipun ianya sudah bertaubat, tapi kamu inginnya
yang ‘fresh’ kan?”
Sampai di sini mungkin ada yang nyeletuk, “ah
santai aja, kalau kita baik pasti dapetnya yang baik juga kok. Kan ada tuh di
Al-Qur’an. Surat an-nur ayat 26, Wanita-wanita yang keji adalah untuk
laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang
keji (pula).”
AnNur ayat 26
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang
keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan
wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang
baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu
bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka
ampunan dan rizki yang mulia (surga).”
Berangkat dari pemahaman di atas, tentu saja kita
bertanya-tanya apakah yang dimaksud baik di sini? Atau keji? Apakah kita dapat
menentukan sesuatu itu baik atau tidak baik? Kalau kita cermati, ayat di atas
merupakan satu paket ayat yang bersambung ,tidak hanya putus pada kalimat
“untuk wanita yang baik” tetapi masih berlanjut dengan bahasan tuduhan , juga ampunan.
Artinya ayat ini sebenarnya diturunkan dalam konteks tertentu. Coba kita lihat
konteks ayat ini turun (asbabun nuzul);
“Ayat ini diturunkan untuk menunjukkan kesucian ‘Aisyah
RA dan Shafwan bin al-Mu’attal RA dari segala tuduhan yang ditujukan kepada
mereka. Pernah suatu ketika dalam suatu perjalanan kembali dari ekspedisi
penaklukan Bani Musthaliq, ‘Aisyah terpisah tanpa sengaja dari rombongan karena
mencari kalungnya yang hilang dan kemudian diantarkan pulang oleh Shafwan yang
juga tertinggal dari rombongan karena ada suatu keperluan. Kemudian ‘Aisyah
naik ke untanya dan dikawal oleh Shafwan menyusul rombongan Rasulullah SAW dan
para sahabat, akan tetapi rombongan tidak tersusul dan akhirnya mereka sampai
di Madinah. Peristiwa ini akhirnya menjadi fitnah di kalangan umat muslim kala
itu karena terhasut oleh isu dari golongan Yahudi dan munafik jika telah
terjadi apa-apa antara ‘Aisyah dan Shafwan.
Masalah menjadi sangat pelik karena sempat terjadi
perpecahan di antara kaum muslimin yang pro dan kontra atas isu tersebut. Sikap
Nabi juga berubah terhadap ‘Aisyah, beliau menyuruh ‘Aisyah untuk segera
bertaubat. Sementara ‘Aisyah tidak mau bertaubat karena tidak pernah melakukan
dosa yang dituduhkan kepadanya, ia hanya menangis dan berdoa kepada Allah agar
menunjukkan yang sebenarnya terjadi. Kemudian Allah menurunkan ayat ini yang
juga satu paket annur 11-26.”
Penjelasan An Nur 26 menurut para ulama
Jika dilihat dari konteks ayat ini, ada dua penafsiran
para ulama terhadap ayat ini yaitu tentang arti kata “wanita yang baik” dan
juga “ucapan yang baik” Sehingga dapat juga diartikan seperti ini;
“Perkara-perkara (ucapan) yang kotor adalah dari
orang-orang yang kotor, dan orang-orang yang kotor adalah untuk perkara-perkara
yang kotor. Sedang perkara (ucapan) yang baik adalah dari orang baik-baik, dan
orang baik-baik menimbulkan perkara yang baik pula. Mereka (yang dituduh) itu
bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka
ampunan dan rizki yang mulia (surga).”
Kata khabiitsat biasa dipakai untuk makna ucapan yang
kotor (keji), juga kata thayyibaat dalam Quran diartikan sebagai kalimat yang
baik.
Hakam Ibnu Utaibah yang menceritakan, bahwa ketika
orang-orang mempergunjingkan perihal Aisyah RA Rasulullah saw menyuruh
seseorang mendatangi Siti Aisyah RA Utusan itu mengatakan, “Hai Aisyah! Apakah
yang sedang dibicarakan oleh orang-orang itu?” Aisyah RA menjawab, “Aku tidak
akan mengemukakan suatu alasan pun hingga turun alasanku dari langit”. Maka
Allah menurunkan firman-Nya sebanyak lima belas ayat di dalam surah An Nur
mengenai diri Siti Aisyah RA. Selanjutnya Hakam Ibnu Utaiban membacakannya
hingga sampai dengan firman-Nya, “Ucapan-ucapan yang keji adalah dari
orang-orang yang keji…” (Q.S. An Nur, 26). Hadits ini berpredikat Mursal dan
sanadnya shahih.
Ayat 26 inilah penutup dari ayat wahyu yang
membersihkan istri Nabi, Aisyah dari tuduhan keji itu. Di dalam ayat ini
diberikan pedoman hidup bagi setiap orang yang beriman. Tuduhan keji adalah
perbuatan yang amat keji hanya akan timbul daripada orang yang keji pula.
Memang orang-orang yang kotorlah yang menimbulkan perbuatan kotor. Adapun
ucapan-ucapan yang baik adalah keluar dari orang-orang yang baik pula, dan
memanglah orang baik yang sanggup menciptakan perkara baik. Orang kotor tidak
menghasilkan yang bersih, dan orang baik tidaklah akan menghasilkan yang kotor,
dan ini berlaku secara umum
Di akhir ayat 26 Tuhan menutup perkara tuduhan ini
dengan ucapan bersih dari yang dituduhkan yaitu bahwa sekalian orang yang
difitnah itu adalah bersih belaka dari segala tuduhan, mereka tidak bersalah
sama sekali. Maka makna ayat di atas juga sangat tepat bahwa orang yang baik
tidak akan menyebarkan fitnah, fitnah hanya keluar dari orang–orang yang
berhati dengki, kotor, tidak bersih. Orang yang baik, dia akan tetap bersih,
karena kebersihan hatinya.
Yang Baik Hanya Untuk yang baik?
Pembahasan kedua yaitu tentang maksud ayat di atas
yaitu “wanita yang baik” dan “wanita yang keji”. Dalam hal ini terjemahan Depag
menggunakan arti wanita yang baik dan pemahaman ini berangkat dari para ulama
yang menyatakan bahwa Aisyah merupakan wanita yang baik-baik, karena konteks ayat
tersebut turun satu paket, yaitu ayat 11-26 dengan ayat sebelumnya tentang
seseorang menuduh wanita yang baik-baik berzina. Maka jika diartikan begitu
sesuai dengan pertanyaan di atas
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rizki yang mulia (surga).”
Ayat ini bersifat umum, bahwa wanita-wanita yang keji
adalah untuk laki-laki yang keji, begitu juga sebaliknya. Namun yang perlu
dipahami adalah ayat ini sebuah kondisi atau memang anjuran, sebab para ulama
banyak mengemukakan pendapat tentang hal ini. Syaikh Muhammad Mutawalli
as-Sya’rawi, ulama Mesir pernah berkata: ada dua macam kalam (kalimat sempurna)
dalam bahasa Arab. Pertama; Kalam yang mengabarkan kondisi atau suasana yang ada.
Kedua Kalam yang bermaksud ingin menciptakan kondisi
dan suasana. Kalam seperti ini bisa ditemukan dalam Quran. Seperti firman Allah
QS. Ali-Imran: 97: Barang siapa yang memasukinya (Baitullah itu) menjadi
amanlah dia. Ayat itu kalau dipahami, bahwa Allah sedang mengabarkan kondisi
dan suasana kota Mekah sesuai kenyataan yang ada, maka tentu tidak akan terjadi
hal-hal yang bertolak belakang dengan kondisi itu. Akan tetapi, kalau ayat itu
dipahami, sebagai bentuk pengkondisian suasana, maka Allah sesungguhnya tengah
menyuruh manusia, untuk menciptakan kondisi aman di kota Mekah. Kalaupun
kenyataan banyak terjadi, bahwa kota Mekah kadang tidak aman, maka hal itu
artinya, manusia tidak mengejewantahkan perintah Allah.
Pemahaman yang sama juga bisa ditelaah pada ayat ini;
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang
keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik
adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk
wanita-wanita yang baik (pula). (QS. An-Nur: 26). Pada kenyataan yang terjadi,
ternyata, ada laki-laki yang baik mendapat istri yang keji, begitu pula
sebaliknya. Maka memahami ayat tersebut sebagai sebuah perintah, untuk
menciptakan kondisi yang baik-baik untuk yang baik-baik, adalah sebuah
keharusan. Kalau tidak, maka kondisi terbalik malah yang akan terjadi.
Kalau kita bandingkan dengan Annur ayat 3 yang mana
kalimat digunakan untuk umum
“laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan
perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina
tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki
musyrik” (QS. An Nur ayat 3)
Di ayat ini lebih tegas mengandung “unsur perintah”
untuk mencari pasangan yang sepadan. Sehingga ayat 26 bisa dimengerti sebagai
sebuah motivasi atau anjuran untuk mengondisikan dan bukan sebagai ketetapan
bahwa yang baik “otomatis” akan mendapatkan pasangan yang baik. Hal ini tentu
memerlukan usaha untuk memperbaiki diri lebih baik.
Ayat tersebut bukanlah merupakan janji Allah kepada
manusia yang baik akan ditakdirkan dengan pasangan yang baik. Sebaliknya ayat
tersebut merupakan peringatan agar umat Islam memilih manusia yang baik untuk
dijadikan pasangan hidup. Oleh karena itu nabi bersabda tentang anjuran
memilih pasangan yaitu lazimnya dengan 4 pertimbangan, dan terserah yang mana
saja, namun yang agamanya baik tentu sangat dianjurkan.
Wallahua’lam.
Sumber : Dakwatuna
Selasa, 15 November 2016
Manfaat Situs Pencarian Jodoh
Hai sobat, di jaman yang serba ada ini, marak sekali
layanan di internet yang menyediakan forum jodoh atau tempat untuk mencari
jodoh secara online. Mungkin situs ini sangat bermanfaat sekali untuk anda yang
memiliki tingkat kesibukan yang tinggi. Hingga tidak memiliki waktu untuk
sekedar mencari pasangan hidup.
Mungkin ada dari sebagian masyarakat yang masih menganut hukum kuno tentang pernikahan seperti perjodohan. Mengapa kuno? Seakan tidak memberi kebebasan untuk bisa memilih sendiri pasangannya.
Nah, untuk anda yang tidak suka dijodohkan tapi sudah di desak untuk segera menikah. Kendalanya anda sangat sibuk dengan kegiatan anda sampai- sampai anda tak ada waktu untuk mencari pasangan, kini ada layanan yang di ciptakan khusus untuk anda yang memiliki kesibukan tinggi.
Seperti apakah itu? Anda pasti sering membuka internet, entah itu untuk tugas, pekerjaan, akau sekedar iseng seperti media sosial, untuk masak dan lain- lain.
Cobalah sesekali untuk membuka dan menjelajahi situs yang menyediakan layanan pencari jodoh. Setelah membukanya, anda tertarik? Apa salahnya untuk bergabung sekedar menambah teman dan pengetahuan? Cobalah mulai saat ini. Tak lama kemudian, anda akan mulai menikmati pertemanan anda dengan bebrapa orang yang tak anda jumpai dalam kehidupan anda. Teman- teman yang berbeda baik dari segi karakter maupun pribadinya. Dan mungkin saja itu awal dari proses anda menemukan jodoh idaman anda.
Setelah akrab dengan beberapa orang, anda akan mulai terfokus pada satu nama. Dan anda mulai yakin itulah jodoh anda. Anda akan semakin dekat dan ingin mengenalnya. Dan biasanya salah satu di antara kalian akan mengajak bertemu di dunia nyata. Siapa tau dia akan serius dan mengajak anda membicarakan tentang masa depan ke jenjang yang lebih serius lagi. Jadi, anda tidak perlu mencari dari ujung dunia untuk mendapatkan jodoh yang anda harapkan.
Berikut beberapa manfaat bergabung dengan situs pencarian jodoh on line :
Memperbanyak pertemanan
Memperbanyak relasi dan pertemanan sangatlah penting untuk kita yang sudah dewasa. Masa di mana kita sangat sadar akan jati diri kita sebagai makhluk sosial. Yakni saling membutuhkan satu sama lain.
Dengan banyak kenalan akan membuat anda menjadi orang yang mudah bergaul dengan siapapun. Nah, tipe orang yang seperti inilah yang di cari. Tidak pilih- pilih dalam berteman.
Dengan banyaknya teman anda juga bisa membagi kehidupan menjadi 2 hal yang saling berkaitan tapi dengan suasana berbeda sehingga tidak membosankan. Berkorban untuk orang lain terkadang juga perlu diterpkan di kehidupan kita sehari- harinya.
Memperbanyak relasi dan pertemanan sangatlah penting untuk kita yang sudah dewasa. Masa di mana kita sangat sadar akan jati diri kita sebagai makhluk sosial. Yakni saling membutuhkan satu sama lain.
Dengan banyak kenalan akan membuat anda menjadi orang yang mudah bergaul dengan siapapun. Nah, tipe orang yang seperti inilah yang di cari. Tidak pilih- pilih dalam berteman.
Dengan banyaknya teman anda juga bisa membagi kehidupan menjadi 2 hal yang saling berkaitan tapi dengan suasana berbeda sehingga tidak membosankan. Berkorban untuk orang lain terkadang juga perlu diterpkan di kehidupan kita sehari- harinya.
Perluas pengetahuan
Kok bisa?ceritanya seperti ini sobat, dengan banyak teman di dunia maya yang tentunya berada dari bebrapa tempat yang berbeda-beda pasti akan memberikan kita banyak pengetahuan dan pengalaman yang tidak kita dapatkan di lingkungan kita. Sesuatu hal yang baru yang memang tidak ada di sekitar kita karena tiap daeraqh memiliki ciri khas tersendiri.
Pengetahuan yang mungkin tidak di dapat dengan hanya membaca, pengetahuan yang memerlukan praktik dan kerja lapangan yang mungkin sangat di butuhkan oleh pribadi kita. Nah, jadi kita tidak usah bersusah payah mencari guru untuk mengajari hal tersebut.
Meminimalisir rasa grogi
Dengan adanya dunia maya yang notabene tidak nyata, pasti kita tidak akan bertatap muka atau bertemu secra langsung dengan orang yang sedang dekat dengan kita di dunia maya. Jadi, rasa grogi yang mungkin muncul saat kita berhadapan dengan seseorang akan sedikit berkurang dan bahkan akan berubah menjadi rasa percaya diri.,
Itulah beberapa manfaat dari situs pencarian jodoh online. Semoga bermanfaat
Langganan:
Postingan (Atom)








