Konsep keluarga Sakinah Mawadah
dan Warahmah (SAMARA) adalah, sebagaimana dijelaskan dalam tafsir surat ar-Rum
ayat 21:
1. Mari kita renungi firman-Nya yang berbunyi,”dari
jenismu sendiri,” istri adalah manusia yang mulia dimana terjadi
persamaan jenis antara dirinya dan suami, sedangkan laki-laki memiliki tingkata
Qimawah (kepemimpinan) atas wanita (baca: An-Nisa:34).
Kepemimpinan suami bukan artinya bertindak otoriter
dengan membungkam pendapat orang lain (istri).Kepeminpinannya itu ibarat rambu
lalu-lintas yang mengatur perjalanan tetapi tidak untuk memberhentikannya.
Karena itu, kepemimpinan laki-laki tidak berarti menghilangkan peran wanita
dalam berpendapat dan bantuannya di dalm membina keluarga.
2.
Rasa aman, ketentraman dan kemantapan
dapat membawa keselamatan bagi anak-anak dari setiap hal yang mengancam eksistensi
mereka dan membuat mereka menyimpang serta jauh dari jalan yang lurus, sebab
mereka tumbuh dalam suatu ’lembaga’ yang bersih, tidak terdapat kecurangan
maupun intervensi, di dalmnya telah jelas hak-hak dan arah kehidupan,
masing-masing indivisu melakukan kewajibannya sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
”Setiap
kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang
dipimpinnya,”
Kepemimpinan sudah ditentukan dan masing-masing
individu sudah rela terhadap yang lainnya dengan tidak melakukan hal yang
melampaui batas. Inilah makna firman-nya dalam surat an-Nisa’ ayat 34.
3.
Masing-masing pasangan suami istri harus saling
menghormati pendapat yang lainnya. Harus ada diskusi yang didasari oleh rasa
kasih sayang tetapi sebaiknya tidak terlalu panjang dan sampai pada taraf
berdebat. Sebaiknya pula salah satu mengalah terhadap pendapat yang lain
apalagi bila tampak kekuatan salah satu pendapat, sebab diskusi obyektif yang
diasah dengan tetesan embu rasa kasih dan cinta akan mengalahkan semua bencana
demi mejaga kehidupan rumah tangga yang bahagia.
4. Rasa kasih dan sayang yang tertanam sebagai
fitrah Allah SWT di antara pasangan suami –istri akan bertambah seiring dengan
bertambahnya kebaikan pada keduanya. Sebaliknya, akan berkurang seiring
menurunnya kebaikan pada keduanya sebab secara alamiah, jiwa mencintai orang yang memperlakukannya dengan
lembut dan selalu berbuat kebaikan untuknya. Nah, apalagi bila orang itu adalah
suami-istri yang diantara keduanya terdapat kasih sayang dari Allah SWT, tentu
rasa kasih itu akan semakin bertambah dan menguat. Rasulullah SAW bersabda ,”Dunia
itu adalah kesenangan dan sebaik-baik kesenangannya adalah wanita shalihah,”
5. Efek terbaik yang didapt dari rumah tangga
Nabawi adalah terjaganya hak dalam hubungan suami-istri baik saat hidup maupun
setelah mati. Hal ini dapat terlihat dari ucapan istri Rasulullah SAW tercinta,
‘AIsyah RA yg begitu cemburu terhadap Khadijah RA, istri pertama beliau padahal
ia sudah wafat dan belum pernah dilihatnya. Hal itu semata karena beliau sering
mengingat kebaikan dan jasanya.
Semoga Allah SWT menjadikan rumah
tangga kaun muslimin rumah tangga yang selalu diliputi SAMARA. Dan hal ini bisa
terealisasi, manakala kaum Muslimin kembali kepada ajaran Rasul mereka dan
mencontoh kehidupan rumah tangga Beliau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar