Senin, 08 Agustus 2016

MEMBANGUN KELUARGA SAMARA

Konsep keluarga Sakinah Mawadah dan Warahmah (SAMARA) adalah, sebagaimana dijelaskan dalam tafsir surat ar-Rum ayat 21:
1.   Mari kita renungi firman-Nya yang berbunyi,”dari jenismu sendiri,” istri adalah manusia yang mulia dimana terjadi persamaan jenis antara dirinya dan suami, sedangkan laki-laki memiliki tingkata Qimawah (kepemimpinan) atas wanita (baca: An-Nisa:34).
Kepemimpinan suami bukan artinya bertindak otoriter dengan membungkam pendapat orang lain (istri).Kepeminpinannya itu ibarat rambu lalu-lintas yang mengatur perjalanan tetapi tidak untuk memberhentikannya. Karena itu, kepemimpinan laki-laki tidak berarti menghilangkan peran wanita dalam berpendapat dan bantuannya di dalm membina keluarga.

2.    Rasa aman, ketentraman dan kemantapan dapat membawa keselamatan bagi anak-anak dari setiap hal yang mengancam eksistensi mereka dan membuat mereka menyimpang serta jauh dari jalan yang lurus, sebab mereka tumbuh dalam suatu ’lembaga’ yang bersih, tidak terdapat kecurangan maupun intervensi, di dalmnya telah jelas hak-hak dan arah kehidupan, masing-masing indivisu melakukan kewajibannya sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ”Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas yang dipimpinnya,”
Kepemimpinan sudah ditentukan dan masing-masing individu sudah rela terhadap yang lainnya dengan tidak melakukan hal yang melampaui batas. Inilah makna firman-nya dalam surat an-Nisa’ ayat 34.

3.      Masing-masing pasangan suami istri harus saling menghormati pendapat yang lainnya. Harus ada diskusi yang didasari oleh rasa kasih sayang tetapi sebaiknya tidak terlalu panjang dan sampai pada taraf berdebat. Sebaiknya pula salah satu mengalah terhadap pendapat yang lain apalagi bila tampak kekuatan salah satu pendapat, sebab diskusi obyektif yang diasah dengan tetesan embu rasa kasih dan cinta akan mengalahkan semua bencana demi mejaga kehidupan rumah tangga yang bahagia.

4.     Rasa kasih dan sayang yang tertanam sebagai fitrah Allah SWT di antara pasangan suami –istri akan bertambah seiring dengan bertambahnya kebaikan pada keduanya. Sebaliknya, akan berkurang seiring menurunnya kebaikan pada keduanya sebab secara alamiah, jiwa  mencintai orang yang memperlakukannya dengan lembut dan selalu berbuat kebaikan untuknya. Nah, apalagi bila orang itu adalah suami-istri yang diantara keduanya terdapat kasih sayang dari Allah SWT, tentu rasa kasih itu akan semakin bertambah dan menguat. Rasulullah SAW bersabda ,”Dunia itu adalah kesenangan dan sebaik-baik kesenangannya adalah wanita shalihah,”

5.     Efek terbaik yang didapt dari rumah tangga Nabawi adalah terjaganya hak dalam hubungan suami-istri baik saat hidup maupun setelah mati. Hal ini dapat terlihat dari ucapan istri Rasulullah SAW tercinta, ‘AIsyah RA yg begitu cemburu terhadap Khadijah RA, istri pertama beliau padahal ia sudah wafat dan belum pernah dilihatnya. Hal itu semata karena beliau sering mengingat kebaikan dan jasanya.

Semoga Allah SWT menjadikan rumah tangga kaun muslimin rumah tangga yang selalu diliputi SAMARA. Dan hal ini bisa terealisasi, manakala kaum Muslimin kembali kepada ajaran Rasul mereka dan mencontoh kehidupan rumah tangga Beliau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar