Sabtu, 25 Maret 2017

BAHAGIA MESKI TANPA ANAK

Salah satu harapan pasangan yang menikah adalah memiliki keturunan atau anak. Kehadiran anak dianggap penting karena diharapkan dapat meneruskan garis keturunan keluarga. Karena itu, tidak sedikit orang yang mersa kecewa ketika pernikahannya belum juga dikaruniai keturunan. Kehadiran anak memang dapat memberikan sukacita kepada pasangan suami istri, sebagai bukti ikatan cinta mereka, dimana mereka dapat mencurahkan kasih sayang dan jerih payah mereka. Tidak kalah penting juga, anak akan menjadi penolong di saat suami istri memeasuki usia lanjut.
Namun di sisi lain, dimana masa penantian hadirnya sang buah hati yang sudah cukup lama, dan dengan berbagai usaha telah ditempuh, ternyata tidak kunjung juga dikaruniai keturunan. Secara umum, kondisi yang demikian itu dapat mengurangi rasa kebahagiaan dalam keluarga, karena terasa hampa tanpa terdengar tangisan seorang anak kecil yang menggemaskan. Lalu bagaimana bila Allah belum mengaruniai anak ?

Berikut beberapa tips untuk menatap masa depan keluarga yang bahagia :
1.    Meyakini bahwa pernikahan adalah suatu ibadah yang agung
Dalam Surat Yaasiin ayat 36 disebutkan, bahwa Allah telah menciptakan para makhluk-Nya secara berpasang-pasangan. PAsangan manusia dalam Islam diresmikan dalam sebuah akad pernikahan yang sangat dianjurkan Rasulullah, sebagaimana sabdanya : “Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sdh berkeluarga lebih baik daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (perawan),” (HR. Ibnu Ady dari Abu Hurairah)
Rasulullah juga bersabda : “Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR.Bukhari), sehingga disimpulkan bahwa menikah adalah suatu ibadah besar yang mengangkat derajat orang yang menjalankannya, terlepas memiliki anak atau tidak.
2.    Mengenali Tugas Khusus
Daripada tenggelam dalam perasaan gagal, atau bersalah, sebaiknya suami istri mengambil hikmah di balik maksud Allah yang belum memberikan keturunan kepada mereka dalam keadaan itu. Misalnya, tugas kemanusiaan yang sulit dilakukan apabila mereka memiliki anak. Tugas itu mengharuskan mereka berdua sering bepergian ke berbagai tempat. Menggerakkan organisasi-organisasi dan orang-orang utk melakukan dakwah islamiyyah atau kegiatan social keagamaam lainnya. JIka saja mereka memiliki anak, mereka pasti tidak bisa melakukan tugas itu dengan baik.
3.    Mengadopsi Anak
Mengadopsi anak adalah tradisi sejak jaman Jahiliyah dan dibenarkan di awal kedatangan Islam. Bahkan Nabi Muhammad SAW sendiri pernah melakukannya, yaitu ketika beliau mengadopsi Zaid bin Haritsah sebelum nabi diutus Allah sebagai nabi. Kemudian Allah menurunkan larangan utk menasabkan anak adopsi kepada ayat angkat, sebagimana dilakukan kaum Jahiliyah, (QS. Al Ahzaab:4).
4.    Belum memiliki anak bukanlah kegagalan
Memang Rasulullah SAW memerintahkan umatnya yg telah menikah utk memperbanyak keturunan, sebagaimana sabdanya :
“Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturuunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain . (HR. Baihaqi dan Abdurrazak)
Secara umum manusia memang harus berkembang biak melalui ikatan pernikahan. Tetapi pasangan suami-istri hanyalah memiliki kemampuan sebatas usaha dan doa. Adapun yang menentukan adanya keturunan atau tidak itu bergantung pada lekuasaan Allah SWT . Oleh karena itu, pasangan suami istri yg belum dikaruniai sang buah hati jangan merasa pernikahan yang dibangun itu gagal atau kandas, karena itu semua di luar kekuasaan manusia.
5.    Menyiapkan hari tua
Pada waktunya, pasangan suami-istri akan memasuki masa tua. Mereka bisa mempersiapkan diri utk memasuki rumah lansia. Karena itu selama masih sehat, sebaiknya mereka mempersiapkan keuangan utk digunakan pembiayaan masuk rumah lansia tanpa lupa meningkatkan ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT.
6.    Tetap berusaha dan bertawakkal
Manusia memang harus senantiasa berusaha meski harus dibarengi kesabaran yang ttiada henti. Kemudian juga bertawakkal kepada Allah, bahkan jika hal itu terjadi karena alasan medis yg tidak bisa ditanggulangi. Tidak ada yang mustahil bagi Allah. Nabi Zakaria dan istrinya, Isya’binti Faqudz yg sdh memasuki usia menopause pun berdoa dan berusaha. Akhirnya beliau dikaruniai anak pada saat usia mereka sudah tua.
7.    Tetap bersabar dan ikhlas

Tidak sedikit pasangan yang kemudian kecewa dan menyalahkan pasangan karena mandul. Keadaan  ini akan merusak diri sendiri dan pernikahan. Sebaiknya pasangan menerima dengan ikhlas dan saling menguatkan satu sama lain. Jadi karena sudah menikah, siapapun yang mandul harus diterima secara lahir dan batin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar