Kamis, 13 Oktober 2016

Pilih Aku atau Ibumu



Istri dan Ibu adalah dua perempuan yang sangat spesial. 

Keduanya memliki makna yang sangat besar dalam hidup, karir dan kebahagiaan seorang lelaki.
Namun ketika mertua (terutama ibu) diktator, sok mengatur, sementara istri "pemberani", tidak suka diintimidasi, apalagi istri yang sudah berpenghasilan sendiri, lebih-lebih wanita karir maka beginilah jadinya. Kedua kubu sama-sama egois, ngotot tidak mau disalahkan, setiap kali bentrok, akan berakhir ribut.

Akibatnya suami yang seharusnya menuntun istri untuk ikut berbirul walidain makin bingung, dilema dan serba sulit. Nasehat suami akan menjadi dongeng yang masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

Bagaiman sikap suami yang seharusnya , berikut penjelasan pakar.

Ida Fitriani, S. PSi.M. PSi
Sikap seorang suami sebaiknya :
- tetap menjadi pendengar dulu meski tahu siapa yang sebenarnya salah agar pikiran dan
  perasaan mereka menjadi lebih tenang. Kebanyakan wanita yang tidak didengarkan akan
  mudah marah dan stress.

- Menghormati ibu sangat wajib, tapi jika rumah tangga tetap langgeng utamakanlah istri.
  Banyak kasus perceraian karena suami lebih membela ibu daripada istrinya yang tidak
  dibela. Bagaimanapun, posisi seorang istri selalu lebih lemah daripada ibu.

- Sesekali bersikap tegas dan berani menegur jika salah satu atau keduanya melakukan
  kesalahan yang berat, apalagi jika sudah keluar kata-kata yang tidak pantas diucapkan

- Seringkali memberi hadiah pada momen tertentu kepada istri maupun ibu. Tujuannya agar
  mereka berdua tidak merasa kehilangan haknya dan untuk menghapus stigma ibu atau istri
  merasa bahwa Anda lebih membela orang lain

- Tunjukkan sebagai suami atau anak yang selalu bisa diandalkan, meski tidak bisa mengatasi
  semua masalah, pastikan selalu ada saat dibutuhkan

- Berusaha bersikap netral, subyektif dan tidak memihak pada salah satu keduanya.
  Sampaikan secara objektif mengapa istri atau ibu Anda layak dibela

- Pilih sesuai kapasitasnya dan tetap berada pada koridor yang ditentukan dan tidak terlalu  
  mencampuri. Misalnya tidak melibatkan ibu untuk masalah intern rumah tangga dan jangan
  pula libatkan istri dalam masalah keluarga, seperti warisan, harta orang tua, atau masalah
  dengan keluarga besar

- Katakan cinta pada istri ketika si ibu mengkritiknya atau sangat menyayangi  ibu yang telah
  melahirkan dan mengasuh sejak kecil ketika istri mengkritik ibu. Dengan begini biasanya
  keduanya tidak akan meminta untuk memilih salah satu dari keduanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar